Jumat, 07 Desember 2018

Makalah Hubungan Sekolah dan Masyarakat

MAKALAH PENGELOLAAN PENDIDIKAN
“HUMAS”









DOSEN PENGAMPUH:
DWI AGUS KURNIAWAN. S.Pd., M.Pd


DISUSUN OLEH:
1. ANA SARI PULSANDE (A1C317040)
2. EVRILIA PUSPA DEWI (A1C315014)
3. LISA ANGGRAINI (A1C317032)
4. RANI RAMADHAN (A1C317072)
5. YUNITA SIREGAR (A1C317004)





PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA 
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2018





BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Hubungan masyarakat atau public relatian merupakan hubungan timbal balik antara sekolah dan masyarakat. Sekolah dan masyarakat adalah lingkungan hidup yang tidak dapat dipisahkan. Sekolah sebagai tempat belajar sedangkan lingkungan masyarakat merupakan tempat aplikasi dari proses pendidikan dan pengajaran sekolah. Hubungan sekolah dan masyarakat pada hakikatnya merupakan sarana yang sangat berperan dalam membina dan mengembangkan pertumbuhan pribadi peserta didik disekolah. Sekolah dan masyarakat memiliki hubungan yang sangat erat dalam mencapai tujuan sekolah atau pendidikan secara efektif dan efisien. Sekolah menghendaki agar peserta didik kelak menjadi manusia pembangun yang berkualitas, beriman, dan bertakwa. Sedangkan masyarakat mengharapkan agar sekolah dapat mengembangkan berbagai potensi masyarakat setelah kembali dan hidup bermasyarakat.
Hubungan kerjasama yang baik dan harmonis antara sekolah dan masyarakat berguna untuk mewujudkan sekolah yang efektif dan efisien. Hubungan yang harmonis ini akan membentuk saling pengertian antara sekolah, orang tua dan masyarakat, saling membantu antar tugas masing-masing, serta kerjasama yang erat antara sekolah dengan berbagai pihak yang ada di masyarakat. Tujuan hubungan sekolah dan masyarakat yaitu meningkatnya kinerja sekolah dan terlaksananya proses pendidikan di sekolah secara produktif, efektif, dan efisien sehingga menghasilkan lulusan yang produktif dan berkualitas. 
Sekolah sebagai lembaga sosial memiliki dua fungsi utama, yaitu sebagai partner masyarakat dan sebagai penghasil tenaga kerja terdidik. Sekolah dan masyarakat merupakan partnership dalam berbagai aktivitas yang berkaitan dengan aspek-aspek pendidikan. Public relation dalam definisinya dikatakan, bahwa public relation itu melekat pada manajemen. Manajemen tak akan  dapat berjalan sebagimana seharusnya tanpa adanya public relation. Manajemen sangat berperan dalam kehidupan sehari-hari, apalagi dalam kehidupan masyarakat modern seperti sekarang ini. Tak ada kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat yang tidak memerlukan manajemen. Dalam pengertian public relation dinyatakan bahwa public relation  akan sukses dalam fungsinya apabila mampu menciptakan, membangun, dan mengembangkan relasi kita.

1.2 Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian dan Tujuan Humas?
2. Apa saja Faktor dari Humas?
3. Apa saja Jenis - Jenis Humas?
4. Apa saja Karakter Humas?
5. Apa Model Stategi Humas?
6. Apa saja Prinsip – Prinsip Humas?
7. Apa saja Teknik – Teknik Humas?

1.3 Tujuan
1. Dapat Mengetahui Pengertian dan TujuanHumas.
2. Dapat Mengetahui Faktor dari Humas.
3. Dapat Mengetahui Jenis - Jenis Humas.
4. Dapat Mengetahui Karakter Humas.
5. Dapat Mengetahui Karakter Prinsip – Prinsip Humas.
6. Dapat Mengetahui Faktor Teknik – Teknik Humas.
7. Dapat Mengetahui Model Stategi Humas.











BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori
2.1.1 Pengertian dan Tujuan Hubungan Masyarakat
Secara Etimologis, hubungan masyarakat diterjemahkan dari perkataan bahasa inggris “public relation”, yang berarti hubungan sekolah dengan masyarakat yaitu sebagai hubungan timbal balik antara suatu organisasi (sekolah) dengan masyarakat. Munurut Oemi Abdurrachman M.A. hubungan masyarakat adalah menumbuhkan hubungan baik antara segenap komponen pada suatu lembaga dalam rangka memberikan pengertian, menumbuhkan motivasi dan partisipasi. 
Kindret Leslie (dalam tim dosen administrasi pendidikan, 2014: 147) dalam bukunya “school public relation” mengemukakan pengertian hubungan sekolah dengan masyarakat sebagai berikut : “hubungan sekolah dengan masyarakat adalah suatu proses komunikasi antara sekolah dan masyarakat untuk berusaha dalam menanamkan pengertian warga masyarakat tentang kebutuhan dari karya pendidikan serta pendorong minat dan tanggung jawab masyarakat dalam usaha memajukan sekolah”. 
Onong U. Effendi (dalam tim dosen administrasi pendidikan, 2014:147) dalam bukunya “Human relations and public relation dalam management” (1973:55) mengemukakan bahwa public relation adalah kegiatan berencana untuk menciptakan, membina, dan memelihara sikap budi yang menyenangkan bagi organisasi disatu pihak dan publik dilain pihak. Hubungan masyarakat adalah merupakan kegiatan managemen dalam menciptakan hubunngan  harmonis antara suatu lembaga dengan masyarakat (Sunaengsih, 2017:157).
Sekolah dan Masyarakat adalah lingkungan hidup yang tidak dapat dipisahkan. Sekolah sebagai tempat belajar sedangkan lingkungan masyarakat merupakan tempat implikasi dari proses pendidikan dan pengajaran sekolah. Apa dan bagaimana belajar di sekolah selalu dikaitkan dengan kegunaannya bagi peningkatan hidup dan kehidupan masyarakat. Masyarakat sebagai salah satu pemilik sekolah mendukung dan berpartisipasi dalam meningkatkan pendidikan di sekolah. Sekolah dan masyarakat mengadakan kontak yang sangat erat secara kontinyu. Untuk menciptakan situasi dan kondisi yang harmonis antara pihak pengelola sekolah dan masyarakat, maka sangat dibutuhkan kerja sama dan kontak dari kedua pihak secara simultan dan konprehensif (Umar, 2016 : 18-19).
Public relation is a process used by schools and another organizations to influence public opinion in an attempt to gain support for the organization. This is typically a one way process involving news releases, reports, newsletter, and other methods of distributing favorable information to the public. Professor james gruning of the university of maryland develoved four models of public relatian practice along with a situational theory to identify various publics (Pawlas, 2005: 22). Hubungan masyarakat adalah proses yang digunakan oleh sekolah dan organisasi lain untuk mempengaruhi opini publik dalam upaya untuk mendapatkan dukungan bagi organisasi. Ini biasanya merupakan proses satu arah yang melibatkan rilis berita, laporan, buletin, dan metode lain untuk membagikan informasi yang menguntungkan kepada publik. Profesor james gruning dari universitas maryland mengembangkan empat model praktik hubungan masyarakat bersama dengan teori situasional untuk mengidentifikasi berbagai public   (Pawlas, 2005: 22).
Hubungan sekolah dengan masyarakat merupakan bentuk hubungan komunikasi ekstern yang dilaksanakan atas dasar kesamaan tanggung jawab dan tujuan. Masyarakat merupakan kelompok individu-individu yang berusaha menyelenggarakan pendidikan atau membantu usaha-usaha pendidikan. Sekolah berada ditengah-tengah masyarakat dan dapat dikatakan berfungsi sebagai pisau bermata dua. Mata yang pertama adalah menjaga kelestarian nilai-nilai positif yang ada dalam masyarakat, agar pewarisan nilai-nilai masyarakat berlangsung dengan baik. Mata yang kedua adalah sebagai lembaga yang mendorong perubahan nilai dan tradisi sesuai dengan kemajuan dan tuntutan kehidupan serta pembangunan.
Hubungan sekolah dengan masyarakat adalah suatu proses komunikasi antara sekolah dengan masyarakat untuk meningkatkan pengertian masyarakat tentang kebutuhan dan kegiatan pendidikan serta mendorong minat dan kerjasama untuk masyarakat dalam peningkatan dan pengembangan sekolah.   Hubungan sekolah dan masyarakat ini sebagai usaha kooperatif untuk menjaga dan mengembangkan saluran informasi dua arah yang efisien serta saling pengertian antara sekolah (Darmadi, 2006:54-55).
Hubungan masysarakat atau public relation (PR) adalah suatu usaha yang  sengaja dilakukan, yang direncanakan secara berkesinambungan untuk menciptakkan saling pengertian antara sebuah lembaga dengan masyarakat. Dalam artian lain dapat dikatakan sebagai sebuah seni berkomunikasi dengan publikuntuk membangun salinng pengertian, menghindari kesalahpahaman, mispersepsi dan sekaligus membangun citra positif lembaga (Rahmat, 2016:11-12).
Public relations is both a professional practice and  subfield of communication with its owm research and theory base. Public relations is relatively young as an ademic field, however, having developed identifiable theory in only about the last 25 years. The field of public relations is developing into a theoretically based area of applied communication that has the potential to inform several areas of communication/mass communication and to offer theoretic and conceptual tools useful in bealth, risk, and political communication, among others. Because many readers are unfamiliar with public relations theory and research, this article first reviews and summarizes theory-related scholarship in public relations, then categorizes and explains the theoretic trends in the field. The article concludes by demonstrating how one of public relations' theoretic  / conceptual tools, issues management, can apply across all areas of applied communication (Taylor and carl, 2004:645). Hubungan masyarakat adalah praktik profesional dan subbidang komunikasi dengan riset dan landasan teorinya. Hubungan masyarakat relatif masih muda sebagai bidang ademik, namun, setelah mengembangkan teori yang dapat diidentifikasi hanya dalam 25 tahun terakhir. Bidang hubungan masyarakat berkembang menjadi bidang komunikasi terapan yang berbasis teoritis yang memiliki potensi untuk menginformasikan beberapa bidang komunikasi-komunikasi massa dan untuk menawarkan alat teoritis dan konseptual yang berguna dalam komunikasi, risiko, dan politik, antara lain. Karena banyak pembaca yang tidak akrab dengan teori dan penelitian relasi publik, artikel ini pertama kali mengulas dan merangkum teori-teori yang terkait dengan teori dalam hubungan masyarakat, kemudian mengkategorikan dan menjelaskan tren teoritis di lapangan. Artikel ini menyimpulkan dengan menunjukkan bagaimana salah satu alat teoritis / konseptual public relations, manajemen masalah, dapat diterapkan di semua bidang komunikasi terapan (taylor dan carl, 2004: 645).  
Hubungan mutualisme sekolah dan masyarakat merupakan bentuk komunikasi eksternal yang dilakukan atas dasar kesamaan tanggung jawab dan tujuan. Sekolah menghendaki agar peserta didik kelak menjadi manusia pembangun yang berkualitas, beriman, dan bertakwa. Demikian halnya masyarakat, mengharapkan agar sekolah dapat menempa sumber daya manusia yang produktif dan berkualitas agar dapat mengembangkan berbagai potensi masyarakat setelah kembali dan hidup bermasyarakat. Masyarakat menghendaki tenaga-tenaga terampil, demokratis, dan tanggung jawab, yang datang dari lingkungan sekolah. Karena itu, perlu starategi yang harmonis untuk mengoptimalkan peran serta masyarakat terhadap pendidikan di sekolah. Sebagaimana diungkapkan  oleh laslie (1980) bahwa:
School public relation is process of communication between the school and community for purpose for increasing citizen understanding of educational needs and practice and encouraging intelligent citizen interest and co-operation in work of improving the school (Mulyasa, 2013: 118-119). Hubungan masyarakat sekolah adalah proses komunikasi antara sekolah dan masyarakat untuk tujuan meningkatkan pemahaman warga terhadap kebutuhan dan praktik pendidikan dan mendorong minat dan kerjasama warga negara yang cerdas dalam upaya meningkatkan sekolah (Mulyasa, 2013: 118-119).
School community partnership refer to the connctions between school and community individuals and organization that arre created to enhance students social, emotional, and intellectual development. A central principle to Epstein's theory of overlapping spheres of influence is that goals for student  academic success are best achieved through the cooperation and support of schools, families, and communities (Willems and Alyssa, 2012:9-10).Kemitraan masyarakat sekolah mengacu pada hubungan antara sekolah dan individu masyarakat dan organisasi yang diciptakan untuk meningkatkan perkembangan sosial, emosional, dan intelektual siswa. prinsip utama untuk teori Epstein tentang lingkungan pengaruh yang tumpang tindih adalah bahwa tujuan untuk keberhasilan akademik siswa paling baik dicapai melalui kerja sama dan dukungan sekolah, keluarga, dan masyarakat (Willems and Alyssa, 2012:9-10).

Tujuan hubungan masyarakat berdasarkan dimensi kepentingan sekolah antara lain:
1. Memelihara kelangsungan hidup sekolah.
2. Meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.
3. Memperlancar kegiatan belajar mengajar.
4. Memperoleh bantuan dari masyarakat dalam rangka pengemabngan dan  pelaksanaan program-program sekolah.
Tujuan hubungan berdasarkan kebutuhan masyarakat antara lain:
1. Memajukan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
2. Memeperoleh kemajuan sekolah dalam memecahkan berbagai masalah yang di hadapi.
3. menjamin relevansi program sekolah dengan kebutuhan dan perkembangan  masyrakat.
4. Memperoleh kembali anggota anggota masyarakat yang terampil dan makin meningkatkan kemampuan (Darmadi, 2006:55).
Disamping itu hubungan mutualisme sekolah dan masyarakat bertujuan untuk saling membantu, serta mengisi dan menggalang bantuan keuangan, bangunan, serta barang.

2.1.2 Faktor dari Hubungan Sekolah dan Masyarakat
One of my concerns in this study was the viewpoints of community members on community-school relations, specifi cally their interpretation of their role and involvement, in terms of student learning and their expectations of teachers. When asked for views regarding how much involvement is appropriate or desirable, many community members pointed to a variety of factors that have hindered their participation. The fi rst is that they wished not to interfere in the work of teachers. Like medical doctors who need to do their jobs without interference from lay people, community members have always regarded teachers as professional people who know their jobs very well and need no interference from others (Agbo, 2007 : 7).Salah satu perhatian saya dalam penelitian ini adalah sudut pandang anggota masyarakat tentang hubungan masyarakat-sekolah, khususnya interpretasi mereka tentang peran dan keterlibatan mereka, dalam hal pembelajaran siswa dan harapan mereka terhadap guru. Ketika ditanyakan pandangan tentang seberapa banyak keterlibatan yang sesuai atau diinginkan, banyak anggota masyarakat menunjukkan berbagai faktor yang menghambat partisipasi mereka. Yang pertama adalah mereka ingin tidak ikut campur dalam pekerjaan guru. Seperti dokter yang perlu melakukan pekerjaannya tanpa campur tangan dari orang  awam, anggota masyarakat selalu menganggap guru sebagai orang profesional yang tahu pekerjaan mereka dengan sangat baik dan tidak perlu campur tangan dari orang lain (Agbo, 2007 : 7).
In addition, school-community partnerships may have multiple foci. Activities may be student-centered, family-centered, school-centered, or community-centered. Student-centered activities include those that provide direct services or goods to students, for example, mentoring and tutoring programs, contextual learning and job-shadowing opportunities, as well as the provision of awards and scholarships to students. Family-centered activities are those that have parents or entire families as their primary focus. This category includes activities such as parenting workshops, general educational development (GED) and other adult education classes, parent/ family incentives and awards, and family fun and learning nights. School-centered activities are those that benefit the school as a whole, such as beautification projects and the donation of school equipment and materials or activities that benefit the faculty, such as staff development and classroom assistance. Community-centered activities have as their primary focus the community and its citizens, for example, charitable outreach, neighborhood art projects, and community service and revitalization activities (Bausherman at all. 2014 : 113).
Selain itu, kemitraan sekolah-masyarakat mungkin memiliki banyak fokus. Kegiatan mungkin berpusat pada siswa, berpusat pada keluarga, berpusat pada sekolah, atau berpusat pada komunitas. Kegiatan yang berpusat pada siswa mencakup kegiatan yang memberikan layanan langsung atau barang kepada siswa, misalnya, program bimbingan dan bimbingan, pembelajaran kontekstual, dan peluang pencerahan kerja, serta pemberian penghargaan dan beasiswa kepada siswa. Kegiatan yang berpusat pada keluarga adalah kegiatan yang memiliki orang tua atau seluruh keluarga sebagai fokus utama mereka. Kategori ini mencakup kegiatan seperti lokakarya pengasuhan, pengembangan pendidikan umum (GED) dan kelas pendidikan orang dewasa lainnya, insentif dan penghargaan orang tua / keluarga, serta hiburan keluarga dan malam belajar. Kegiatan yang berpusat pada sekolah adalah kegiatan yang bermanfaat bagi sekolah secara keseluruhan, seperti proyek percantik dan sumbangan peralatan sekolah dan bahan atau kegiatan yang bermanfaat bagi fakultas, seperti pengembangan staf dan bantuan kelas. Kegiatan yang berpusat pada masyarakat memiliki fokus utama mereka adalah masyarakat dan warganya, misalnya, penjangkauan amal, proyek seni lingkungan, dan layanan masyarakat dan kegiatan revitalisasi (Bausherman at all. 2012 : 113).                                           
School-community partnerships refer to connections between schools and individuals, businesses, organizations, and institutions within or beyond the geographic boundaries of neighborhoods. Within the theoretical literature, there are a number of rationales for school-community partnerships. Proponents emphasize their importance for effective school functioning, arguing that such collaboration can provide underresourced schools with human, financial, and material resources to operate more effectively (Galindo. 2012 :112 in Waddock, 1995).Kemitraan sekolah-masyarakat mengacu pada hubungan antara sekolah dan individu, bisnis, organisasi, dan institusi di dalam atau di luar batas-batas geografis lingkungan. Dalam literatur teoritis, ada sejumlah alasan untuk kemitraan sekolah-masyarakat. Para pendukung menekankan pentingnya mereka untuk berfungsi sekolah yang efektif, dengan alasan bahwa kolaborasi tersebut dapat menyediakan sekolah yang kurang sumber daya manusia, keuangan, dan material untuk beroperasi lebih efektif (Bruchman. 2014 : 112 dalam Waddock, 1995).
According to Okam and Bozimo (2004), schoolcommunity relationship involves the inter-linkage association and cooperation between a school and the host community. It is also concerned with bringing human resources in the community and school for effective and functional school management.Schoolcommunity relationship has as its central focus on the enhancement of teaching and learning.Through appropriate school-community relationship, the school comes into factual contact with the community thereby issues are addressed accordingly. Since, schools are established for serving societal needs; it becomes necessary that a good relationship must exist between the school and the community it is meant to serve.It is common these days to hear community members in southern part of Taraba state instead of assisting in the discipline of the students rather go to schools to attack teachers because their wards are being disciplined. There are also situations where some members of school community within Southern Senatorial District of Taraba State have conflict with school principals and often petition for their transfer to other schools. There are issues where some community leaders negatively interfere in the day to day administration of the school, encroach on the school land as well as impose hostile laws on the schools. It is also speculated that in some schools, old students within the area do not pay much attention to the problems and development of their former schools ( Micah et al. 2017 : 102).Hubungan komunitas sekolah dapat dilihat sebagai koordinasi upaya orang-orang dalam komunitas dan mereka di sekolah menuju pencapaian tujuan pendidikan yang luas dan spesifik. Menurut Okam dan Bozimo (2004), hubungan komunitas sekolah melibatkan hubungan antar-hubungan dan kerjasama antara sekolah dan komunitas tuan rumah. Hal ini juga berkaitan dengan membawa sumber daya manusia di masyarakat dan sekolah untuk manajemen sekolah yang efektif dan fungsional. Hubungan komunitas sekolah telah menjadi pusat perhatiannya pada peningkatan pengajaran dan pembelajaran. Melalui hubungan sekolah-masyarakat yang tepat, sekolah menjadi kontak nyata dengan oleh karena itu masalah ditangani dengan tepat. Sejak, sekolah didirikan untuk melayani kebutuhan masyarakat; menjadi perlu bahwa hubungan yang baik harus ada antara sekolah dan masyarakat yang dimaksudkan untuk melayani. Hal yang umum saat ini untuk mendengar anggota masyarakat di bagian selatan negara bagian Taraba daripada membantu dalam disiplin para siswa dan bukannya pergi ke sekolah untuk menyerang guru karena lingkungan mereka sedang didisiplinkan. Ada juga situasi di mana beberapa anggota komunitas sekolah dalam Distrik Senator Selatan Negara Bagian Taraba memiliki konflik dengan kepala sekolah dan sering mengajukan petisi untuk transfer mereka ke sekolah lain. Ada masalah di mana beberapa tokoh masyarakat secara negatif mencampuri urusan administrasi sekolah sehari-hari, merambah lahan sekolah serta memberlakukan undang-undang permusuhan di sekolah-sekolah. Hal ini juga berspekulasi bahwa di beberapa sekolah, siswa lama di daerah tersebut tidak terlalu memperhatikan masalah dan pengembangan sekolah mereka sebelumnya( Micah et al. 2017 : 102).

2.1.3 Jenis Hubungan Masyarakat Sekolah
Menurut Mulyono (2017 : 172) bahwa terdapat jenis-jenis hubungan sekolah dan masyarakat itu dapat digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu :
1. Hubungan edukatif  ialah hubungan kerja sama dalam hal mendidik siswa, antara guru di sekolah dan orang tua di dalam keluarga. Adanya hubungan ini dimaksudkan agar tidak terjadi perbedaan prinsip atau bahkan pertentangan yang dapat mengakibatkan keragu – raguan pendirian dan sikap pada diri peserta didik.
2. Hubungan kultural ialah uasaha kerja sama antara sekolah dan masyarakat yang memungkinkan adanya saling membina dan mengembangkan kebudayaan masyarakat tempat sekolah itu berada. Untuk itu diperlukan hubungan kerja sama antara kehidupan di sekolah dan kehidupan dalam masyarakat. 
3. Hubungan intitusional ialah hubungan kerja sama antara sekolah dengan lembaga – lembaga lain, baik swasta maupun pemerintah, seperti hubungan kerja sama antara sekolah satu dengan sekolah – sekolah lainnya, kepala pemerintah setempat, ataupun perusahaan negara, yang berkaitan dengan perbaikan dan perkembangan pendidikan pada umunya. 
Dalam hubungan sekolah dan masyarakat ada beberapa jenis hubungan kerja sama anatara sekolah dengan masyarakat. Pertama, hubungan edukatif yaitu hubungan kerjasama dalam hal mendidik anak/murid, antara guru di sekolah dan orang tua di dalam keluarga. Kedua, hubungan kultural yaitu kerjasama antara sekolah dam masyarakat yang memungkinkan adanya saling membina dan mengembangkan kebudayaan masyarakat tempat sekolah itu berada. Dan yang ketiga, hubungan kerjasama antara sekolah dengan lembaga – lembaga atau instansi – instansi resmi lain, baik swasta maupun pemerintah, seperti hubungan kerjasama antara sekolah dengan sekolah – sekolah lain, dengan kepala pemerintah setempat, jawatan penerangan, jawatan pertanian, perikanan dan peternakan, dengan perusahaan – perusahaan negara atau swasta yang  berkaitan dengan perbaikan dan perkembangan pendidikan pada umumnya (Sunaengsih, 2017 : 156).

2.1.4 Karakter Hubungan Masyarakat dan Sekolah
The school and community are inseparable and their good relationship improves the quality of education given to the pupils. Mahuta, (2007) was of the view that school as a social institution is regarded as center of knowledge and it possesses the power to mould and shape the character of individuals in the community. For the school to perform its role effectively there is a need for good school community relationship. There are many areas in which school community relationship exist which aid in the development of education, particularly primary type. The function of community towards maintaining and supporting its relationship with school and which ultimately lead to the development of education cannot be overemphasized. It is a known fact that there can never be a school where there is no community. The communities normally provide lands in which the schools are build as well as providing children enrolment. Nasiru, (2008) and Gital, (2009) were of the view that community provides school with the land to be established, fund it, provide facilities to it and help greatly in the improvement of the performance of pupils and general development of education. Generally, the school utilizes the community resources for teaching and learning purposes and at the same time derives its curriculum from the community (Mahuta, 2007). Agbaje, (1990), Adeboyeje, (1994) and Cohen, (1998) in Ogundele, Oparinde and Oyewale, (2012) were of the opinion that school community relationship have significant impact on the provision and maintenance of school facilities, school discipline, teachers job performance, academic achievement of students and overall success of the schools. This clearly shows that school community relationship exists and helps greatly in the development of education(Sa’ad and Sadiq, 2014 : 24). Sekolah dan komunitas tidak terpisahkan dan hubungan baik mereka meningkatkan kualitas pendidikan yang diberikan kepada siswa. Mahuta (2007) berpandangan bahwa sekolah sebagai lembaga sosial dianggap sebagai pusat pengetahuan dan memiliki kekuatan untuk membentuk dan membentuk karakter individu dalam masyarakat. Agar sekolah dapat menjalankan perannya secara efektif, ada kebutuhan untuk hubungan masyarakat sekolah yang baik. Ada banyak wilayah di mana hubungan komunitas sekolah ada yang membantu dalam pengembangan pendidikan, khususnya tipe primer. Fungsi masyarakat untuk mempertahankan dan mendukung hubungannya dengan sekolah dan yang pada akhirnya mengarah pada pengembangan pendidikan tidak dapat terlalu ditekankan. Sudah diketahui fakta bahwa tidak akan pernah ada sekolah di mana tidak ada komunitas. Masyarakat biasanya menyediakan lahan di mana sekolah dibangun serta menyediakan pendaftaran anak-anak. Nasiru, (2008) dan Gital, (2009) berpandangan bahwa masyarakat menyediakan sekolah dengan tanah untuk didirikan, mendanainya, menyediakan fasilitas untuk itu dan sangat membantu dalam peningkatan kinerja murid dan perkembangan umum pendidikan. Umumnya, sekolah menggunakan sumber daya komunitas untuk tujuan pengajaran dan pembelajaran dan pada saat yang sama mengambil kurikulumnya dari masyarakat (Mahuta, 2007). Agbaje, (1990), Adeboyeje, (1994) dan Cohen, (1998) di Ogundele, Oparinde dan Oyewale, (2012) berpendapat bahwa hubungan komunitas sekolah memiliki dampak signifikan pada penyediaan dan pemeliharaan fasilitas sekolah, disiplin sekolah, kinerja guru, prestasi akademik siswa dan keberhasilan sekolah secara keseluruhan. Ini jelas menunjukkan bahwa hubungan komunitas sekolah ada dan sangat membantu dalam pengembangan pendidikan (Sa’ad dan Sadiq. 2014 : 24).
According to Judith at all ( 2015 : 10)  In Willems and Gonzalez-DeHass (2012) described school–community partnerships as meaningful relationships with community members, organizations, and businesses that are committed to working cooperatively with a shared responsibility to advance the development of students’ intellectual, social, and emotional well-being. School–community partnerships can impact student success and post-school outcomes as well as positively influence and benefit the community in return Menurut Judith dkk ( 2015 : 10) dalam Willems dan Gonzalez-DeHass (2012) menggambarkan kemitraan sekolah-masyarakat sebagai hubungan yang bermakna dengan anggota masyarakat, organisasi, dan bisnis yang berkomitmen untuk bekerja secara kooperatif dengan tanggung jawab bersama untuk memajukan perkembangan intelektual, sosial, dan emosional siswa. Kemitraan sekolah-masyarakat dapat berdampak pada keberhasilan siswa dan hasil pasca sekolah serta pengaruh positif dan menguntungkan masyarakat sebagai imbalannya.

2.1.5 Model Strategic Management untuk Humas
Model Strategic Management untuk hubungan masyarakat, antara lain :
1. Tahap Stakeholders
Sebuah perusahaan/ organisasi mempunyai hubungan dengan publiknya bilamana perilaku organisasi tersebut mempunyai pengaruh terhadap stakeholdersnya  atau sebaliknya. Humas harus melakukan survei untuk terus membaca perkembangan lingkungannya, dan membaca perilaku organisasinya serta menganalisis konsekuensi yang akan timbul. Komunikasi yang dilakukan secara kontinu dengan stakeholders ini membantu organisasi untuk tetap stabil.
2. Tahap Publik
Publik terbentuk ketika perusahaan/organisasi menyadari adanya problem tertentu. Pendapat ini berdasarkan hasil  penelitian Grunig dan Hunt yang menyimpulkan bahwa publik muncul sebagai akibat adanya problem dan bukan sebaliknya. Dengan kata lain publik selalu eksis bilamana ada problem yang mempunyai potensi akibat (konsekuensi) terhadap mereka. Maka publik bukanlah suatu kumpulan massa umum biasa, mereka sangat selektif dan spesifik terhadap suatu kepentingan tertentu (problem tertentu). Oleh karenanya humas perlu terus-menerus mengidentifikasi publiknya yang muncul terhadap berbagai problem. Biasanya dilakukan melalui wawancara mendalam pada suatu focus group.
3. Tahap Isu
Publik yang muncul sebagai konsekuensi dari adanya problem selalu mengorganisasi dan menciptakan “isu”. Yang dimaksud dengan “isu” di sini bukanlah isu dalam arti kabar burung atau kabar tak resmi yang berkonotasi negatif (bahasa aslinya rumor), melainkan suatu tema yang dipersoalkan. Mulanya pokok, tetapi kemudian akan terjadi kristilasi sehingga pokoknya menjadi jelas karena pihak pihak yang terkait saling melakukan diskusi (Rahmat, 2016: 41- 42).

2.1.6 Prinsip-Prinsip Hubungan Masyarakat Sekolah
Menurut Darmadi (2015:55-56) Dalam melaksanakan hubungan masyarakat dan sekolah perlu dianut beberapa prinsip sebagai pedoman dan arah bagi guru dan kepala sekolah, agar mencapai sasaran yang diinginkan. Prinsip-prinsip hubungan antara lain:
1. Prinsip otoritas yaitu bahwa hubungan sekolah-masyarakat harus dilakukan oleh orang yang mempunyai otoritas, karena pengetahuan dan tanggung jawabnya dalam penyelenggaraan sekolah.
2. Prinsip kesederhanaan yaitu bahwa program - program hubungan sekolah masyarakat harus sederhana dan jelas.
3. Prinsip sensivitas yaitu bahwa dalam menangani masalah - masalah  yang  berhubungan dengan masyarakat, sekolah harus sensitif terhadap kebutuhan serta harpan masyarakat.
4. Prinsip kejujuran yaitu bahwa apa yang disampaikan kepada masyarakat  haruslah sesuatu apa adanya dan disampaikan secara jujur.
5. Prinsip ketepatan  yaitu  bahwa apa yang disampaikan sekolah kepada masyarakat arus tepat, baik dilihat dari segi isi, waktu, dan media yang digunakan serta tujuan yang akan dicapai.
Agar hubungan dengan masyarakat terjamin baik dan berlansung kontinu,maka diperlukan peningkatan profesi guru dalam hal berhubungan dengan masyarakat. Disamping guru mampu menjalankan tugasnya masing-masing disekolah, mereka juga diharapkan mampu melakukan tugas-tugas hubungan dengan masyarakat.
Menurut Sunaengsih (2017) dalam hubungan sekolah dan masyarakat hendaklah selalu berpegang pada prinsip-prinsip yang menjadi pedoman atau landasan bagi tindakan kebijaksanaan yang diambil.
a) Kerjasama harus dimodali debgab itikad baik untuk menciptakan citra baik tentang pendidikan.
b) Pihak awam dalam berperan serta membantu dan merealisasikan program sekolah, hendaknya menghormati dan mentaati ketentuan/peraturan yang berlaku disekolah.
c) Berkaitan dengan prinsip dan teknis edukatif,sekolahlah yang lebih berkewajiban dan  berhak menanganinya.
d) Segala sasaran yang berkaitan dengan kepentingan sekolah harus disalurkan melalui lembaga resmi.
e) Peran serta masyarakat tidak dibatasi oleh jenjang sekolah tertentu sepanjang tidak mencampuri urusan teknis edukatif/akademis.
f) Peran serta masyarakat akan bersifat konstruktif dalam mempelajari dan memahami permasalahan serta cara pemecahan bagi kepentingan dan kemajuan sekolah.
g) Kerjasama harus berkembang secara wajar,diawali dengan yang paling sederhana sampai pada hal-hal yang lebih besar.
h) Efektivitas keikutsertaan para awam perlu dibina hingga layak dalam mengembangkan gagasan/penemuan, saran, kritik sampai pada usaha pemecahan dan pencapaian keberhasilan kemajuan sekolah.
Apabila asas-asas atau prinsip-prinsip dari public relations dilaksanakan oleh sekolah dalam pembinaan kehidupan sekolah, maka memperolah sebutan tersendiri yang lebih dikenal publisitas sekolah 
According to Martin at all (2006 : 8) in his book “Community Bassed Learning Engaging Student For Succes And Citizenship” theoritical foundatio of community bassed learning :
1. Knowledge is constructed and influenced by social interaction.
2. Memory—the acquisition, storage, and retrieval of information—is influenced by experience, prior learning, and practice. 
3. The motivation to learn is affected by personal judgments about one’s abilities and the perceived importance and attainability of the learning goal. 
4. individuals learn in different ways.
5. Barriers to learning can be mitigated by protective factors.
6. Effective learning environments intentionally connect all of the systems that affect young people’s lives—home, school and community.
Menurut Martin dkk, (2006 : 8) dalam bukunya “Community Bassed Learning Engaging Student For Succes And Citizenship”. Berdasarkan teori dasar pembelajaran :
1. Pengetahuan dibangun dan dipengaruhi oleh interaksi sosial
2. Memori — perolehan, penyimpanan, dan pengambilan informasi — dipengaruhi oleh pengalaman, pembelajaran sebelumnya, dan praktik
3. Motivasi untuk belajar dipengaruhi oleh penilaian pribadi tentang kemampuan seseorang dan kepentingan dan pencapaian tujuan pembelajaran yang dirasakan.
4. orang belajar dengan cara yang berbeda
5. Hambatan belajar dapat dimitigasi oleh faktor protektif.
6. Lingkungan belajar yang efektif dengan sengaja menghubungkan semua sistem yang memengaruhi kehidupan anak muda — rumah, sekolah, dan komunitas.
Menurut rahmad (2016:125-126) Apabila kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat ingin berhasil mencapai sasaran, baik dalam arti sasaran masyarakat atau orang tua yang dapat diajak kerja sama maupun sasaran hasil yang diinginkan. Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan dalam pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat adalah :
1. Integrity Prinsip ini mengandung makna bahwa semua kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat harus terpadu.
2. Continuity prinsip ini berarti bahwa pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat, harus dilakukan secara terus menerus.
3. Simplicity prinsip ini menghendaki agar dalam proses hubungan sekolah dengan masyarakat yang dilakukan baik komunikasi personal maupun komunikasi kelompok pihak pemberi informasi (sekolah) dapat menyederhanakan berbagai informasi yang disajikan kepada masyarakat.
Prinsip kesederhanaan ini juga mengandung makna bahwa: 
1) Informasi yang disajikan dinyatakan dengan kata-kata yang penuh persahabatan dan mudah dimengerti
2) Penggunaan kata-kata yang jelas, disukai oleh masyarakat atau akrab bagi pendengar. Informasi yang disajikan menggunakan pendekatan budaya setempat. 
4. Coverage prinsip ini juga mengandung makna bahwa segala informasi hendaknya lengkap, akurat dan up to date. Lengkap artinya tidak satu informasipun yang harus ditutupi atau disimpan, padahal masyarakat/orang tua murid mempunyai hak untuk mengetahui keberadaan dan kemajuan (progress) sekolah dimana anaknya belajar.
5. Constructiveness program hubungan sekolah dengan masyarakat hendaknya kon-struktif dalam arti sekolah memberikan informasi yang konstruktif kepada masyarakat.
6. Adaptability program hubungan sekolah dengan masyarakat hendaknya disesuaikan dengan keadaan di dalam lingkungan masyarakat tersebut. Penyesuaian dalam hal ini termasuk penyesuaian terhadap aktivitas, kebiasaan, budaya (culture) dan bahan informasi yang ada dan berlaku di dalam kehidupan masyarakat.
The comment early indicates that the relationship society and school is principles bye the following elements:
1. School keep the moral power of society secure, and also maintain the social heritage of society.
2. School also protect the historical contuinity of society.
3. School also help to keep alive the society’s achievements in the past and transfer it to the younger generation the teaching of history and social sciences.
4. School are the guardians of the society’s future, because educands are the future leaders of the nations.
5. The member of society are acquainted with those motives and inspirations which formed the basic of all the literary.
6. School also encourge considerable discussion and exchanges of opinion in various part of society.
7. Through medium of the school, leaders in various spheres.
It is evident from the foregoing account of intimate relationship between school and society the development and progress of school (sharma and chandra, 2004:167-168). Komentar awal menunjukkan bahwa hubungan masyarakat dan sekolah adalah prinsip oleh unsur-unsur berikut:
1. Sekolah menjaga kekuatan moral masyarakat aman, dan juga menjaga warisan sosial masyarakat.
2. Sekolah juga melindungi kontinuitas historis masyarakat.
3. Sekolah juga membantu untuk tetap menghidupkan prestasi masyarakat di masa lalu dan mentransfernya ke generasi muda melalui pengajaran sejarah dan ilmu sosial.
4. Sekolah adalah penjaga masa depan masyarakat, karena para pendidik adalah pemimpin masa depan bangsa-bangsa.
5. Anggota masyarakat mengenal motif dan inspirasi yang membentuk dasar dari semua sastra.
6. Sekolah juga mendorong diskusi dan pertukaran pendapat di berbagai bagian masyarakat. 
7. Melalui sekolah menengah, terlahir para pemimpin di berbagai bidang.
Hal ini terbukti dari penjelasan sebelumnya tentang hubungan intim antara sekolah dan masyarakat tentang perkembangan dan kemajuan sekolah (sharma and chandra, 2004:167-168).

2.1.7 Teknik-Teknik Hubungan Masyarakat Sekolah
Dalam hubungan dengan masyarakat, ada teknik yang dapat dilakukan untuk memberikan gambaran tentang sekolah yang perlu diketahui oleh masyarakat. Diantaranya, laporan yang diperikan oleh sekolah kepada masyarakat atau orang tua murid, Buletin Bulanan, Penerbitan Surat Kabar, Pameran Sekolah, Open House, Kunjungan ke Sekolah, Kunjungan ke sekolah murid, Melalui radio dan televisi, dan laporan tahunan (Sunaengsih, 2017 : 172).
Menurut Mulyono (2010) bahwa ada sejumlah teknik yang kiranya dapat diterapkan lembaga pendidikan, teknik-teknik tersebut dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu teknik tertulis, teknik lisan, teknik peragaan dan teknik elektronik.
1. Teknik Tertulis
Hubungan antara sekolah dan masyarakat dapat dilakukan secara tertulis, cara tertulis yang dapat digunakan meliputi:
a) Buku kecil pada permulaan tahun ajaran
Buku kecil pada permulaan tahun ajaran baru ini isinya dijelaskan tentang tata tertib, syarat-syarat masuk, hari-hari libur, dan hari-hari efektif. Kemudian buku kecil ini dibagikan kepada orang tua murid, hal ini biasanya dilaksanakan di taman kanak-kanak (TK).
b) Pamflet
Pamflet merupakan selebaran yang biasanya berisi tentang sejarah lembaga pendidikan tersebut, staf pengajar, fasilitas yang tersedia, dan kegiatan belajar. Pamflet ini selain dibagikan ke wali murid juga bisa disebarkan ke masyarakat umum, selain untuk menumbuhkan pengertian masyarakat juga sekaligus untuk promosi lembaga.
c) Berita Kegiatan Murid
Berita ini dapat dibuat sederhana mungkin pada selebaran kertas yang berisi informasi singkat tentang kegiatan-kegiatan yang dilakukan di sekolah atau pesantren. Dengan ini orang tua dapat mengetahui apa yang terjadi di lembaga tersebut, khususnya kegiatan yang dilakukan murid.
d) Catatan Berita Gembira
Teknik ini sebenarnya mirip dengan berita kegiatan murid, keduanya sama-sama ditulis dan disebarkan ke orang tua. Hanya saja catatan berita gembira ini berisi tentang keberhasilan seorang murid. Berita tersebut ditulis di selebaran kertas dan disampaikan kepada wali murid atau bahkan disebarkan ke masyarakat.
e) Buku kecil tentang cara membimbing anak.
Dalam rangka menciptakan hubungan yang harmonis dengan orang tua, kepala sekolah atau guru dapat membuat sebuah buku kecil yang sederhana yang berisi tentang cara membimbing anak yang efektif, kemudian buku tersebut diberikan kepada orang tua murid.     
2. Teknik Lisan
Hubungan sekolah dengan masyarakat dapat juga lisan, yaitu :
a) Kunjungan Rumah 
Melalui kunjungan rumah ini guru dapat mengetahui masalah anak di rumahnya. Apabila setiap anak diketahui masalahnya secara totalitas, maka program pendidikan akan lebih mudah direncanakan untuk disesuaikan dengan minatnya. 
b) Panggilan Orang Tua
Selain mengadakan kunjungan ke rumah, pihak sekolah sesekali juga memanggil orang tua murid datang ke sekolah. Setelah itu kedua orang tua itu dijelaskan tentang perkembangan pendidikan di lembaga tersebut. Mereka juga perlu diberi penjelasan khusus tentang perkembangan pendidikan anaknya.
c) Pertemuan 
Dengan teknik ini berarti sekolah mengundang masyarakat dalam acara pertemuan khusus untuk membicarakan masalah atau hambatan yang dihadapi sekolah.
3. Teknik Peragaan 
Hubungan sekolah dengan masyarakat dapat dilakukan denbgan cara mengundang masyarakat melihat peragaan yang diselenggarakan biasanya berupa pameran keberhasilan murid. 
4. Teknik Elektronik 
Seiring dengan perkembangan teknologi elektronik maka dalam mengakrabkan sekolah dengan orang tua murid dan masyarakat pihak sekolah dapat menggunakan sarana elektronik, misalnya dengan telpon, televisi, ataupun radio, sekaligus sebagai sarana untuk promosi pendidikan.

Menurut Darmadi (2015) bahwa hal yang dilakukan guru dalam mengandung hubungan sekolah dengan masyarakat antara lain :
1. Membantu sekolah dalam melaksanakan teknik-teknik hubungan sekolah  dengan masyarakat. Melalui :
a) Guru hendaknya selalu berpartisipasi lembaga dan organisasi di masyarakat. 
b) Guru hendaknya membantu memecahkan yang timbul dalam masyarakat.
2. Membuat dirinya lebih baik lagi dalam masyarakat melalui penyesuian diri dengan adat istiadat masyarakat karena guru adalah tokoh milik masyarakat. Tingkah laku guru di sekolah dan di masyarakat menjadi panutan masyarakat. Pada posisi tersebut guru menjaga prilaku yang prima. Apabila masyarakat mengetahui bahwa guru-guru sekolah tertentu dapat dijadikan suri teladan di masyarakat, maka masyarakat akan percaya pada sekolah pada akhirnya masyarakat memberikan dukungan pada sekolah.
3. Guru harus melaksanakan kode etiknya, karena kode etik merupakan seperangkat aturan atau pedoman dalam melaksanakan tugas profesinya.
Penjelasan di atas menunjukkan betapa penting peran guru dalam hubungan sekolah dengan masyarakat. Terjalinnya hubungan yang harmonis antara sekolah-masyarakat membuka peluang adanya saling koordinasi dan pengawasan dalam proses belajar mengajar di sekolah dan keterlibatan bersama memajukan peserta didik. Guru diharapkan selalu berbuat yang terbaik sesuai harapan masyarakat yaitu terbinanya dan tercapainya mutu pendidikan anak-anak mereka.
Penciptaan suasana menantang harus dilengkapi dengan terjalinnya hubungan yang baik dengan orang tua murid dan masyarakat sekitarnya. Ini dimaksudkan untuk membina peran serta dan rasa tanggung jawab bersama terhadap pendidikan. Hanya sebagian kecil waktu yang dipergunakan oleh guru di sekolah dan sebagian besra ada di masyarakat. Agar pendidikan  di luar ini terjalin dengan baik dengan apa yang dilakukan oleh guru di sekolah diperlukan kerjasama yang baik antara guru, orang tua dan masyarakat. Kewajiban guru mengadakan kontak hubungan dengan masyarakat merupakan bagian dan tugas guru dalam mendidik siswa dan mengembangkan profesinya sebagai guru. Sekolah adalah milik bersama antara warga sekolah itu sendiri, pemerintah dan masyarakat.
Dengan adanya perubahan paradigma pendidikan sekarang ini membuka peluang bagi masyarakat untuk dapat menilai sekolah dan guru dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya secara baik sesuai dengan ketentuan yang berlaku.     
Menurut Wati (2015) teknik – teknik yang digunakan dalam melaksanakan hubungan sekolah dengan masyarakat antara lain : 
(1)Teknik pertemuan kelompok yaitu dalam forum rapat pada awal tahun ajaran    dan rapat akhir tahun.
(2)Teknik pertemuan individual yang dilaksanakan dengan cara mengundang wali siswa ke sekolah karena anaknya ada permasalahan, mengundang komite sekolah untuk membahas permasalahan sekolah, pihak sekolah mendatangi tokoh – tokoh masyarakat lingkungan sekolah.
(3)Teknik publikasi melalui siswa dan selebaran maupun bulletin dan mading sekolah, yang dilaksanakan dengan cara pengarahan dan pemberian informasi kepada siswa oleh kepala sekolah  pada upacara bendera setiap hari senin, memberikan selebaran kepada orang tua siswa, membuat laporan kepada orang tua siswa. Sedang mading digunakan untuk memasang karya terbaik siswa, foto-foto kegiatan sekolah supaya bisa diketahui oleh warga sekolah supaya bisa diketahui oleh warga sekolah dan masyarakat yang datang ke sekolah.
Semua teknik tersebut digunakan dalam rangka mengenalkan program sekolah  kepada masyarakat, agar masyarakat menaruh minat kepada sekolah, mau berpartisipasi terhadap kegiatan sekolah bahkan menjalin kerjasama dengan sekolah dan pada akhirnya mau memberi dukungan kepada sekolah baik yang bersifat materil maupun moril (wati, 2015:663).

2.2 Kajian Kritis
2.2.1 Pengertian dan Tujuan Humas
Hubungan masyarakat atau public relatian merupakan hubungan timbal balik antara sekolah dan masyarakat. Sekolah dan masyarakat adalah lingkungan hidup yang tidak dapat dipisahkan. Sekolah sebagai tempat belajar sedangkan lingkungan masyarakat merupakan tempat aplikasi dari proses pendidikan dan pengajaran sekolah. Hubungan sekolah dan masyarakat pada hakikatnya merupakan sarana yang sangat berperan dalam membina dan mengembangkan pertumbuhan pribadi peserta didik disekolah. Sekolah dan masyarakat memiliki hubungan yang sangat erat dalam mencapai tujuan sekolah atau pendidikan secara efektif dan efisien. Sekolah menghendaki agar peserta didik kelak menjadi manusia pembangun yang berkualitas, beriman, dan bertakwa. Sedangkan masyarakat mengharapkan agar sekolah dapat mengembangkan berbagai potensi masyarakat setelah kembali dan hidup bermasyarakat.
Tujuan hubungan masyarakat adalah untuk meningkatkan pemahaman warga terhadap kebutuhan dan praktek pendidikan dan mendorong minat serta kerjasamawarga negara yang cerdas dalam upaya meningkatkan kemajuan sekolah.

2.2.2 Faktor dari Hubungan Sekolah dan Masyarakat
Pada faktor Husemas khususnya interpretasi mereka tentang peran dan keterlibatan mereka, dalam hal pembelajaran siswa dan harapan mereka terhadap guru.

2.2.3 Jenis Hubungan Sekolah dan Masyarakat
Dalam hubungan sekolah dan masyarakat ada beberapa jenis hubungan kerja sama anatara sekolah dengan masyarakat. Pertama, hubungan edukatif yaitu hubungan kerjasama dalam hal mendidik anak/murid, antara guru di sekolah dan orang tua di dalam keluarga. Kedua, hubungan kultural yaitu kerjasama antara sekolah dam masyarakat yang memungkinkan adanya saling membina dan mengembangkan kebudayaan masyarakat tempat sekolah itu berada. Dan yang ketiga, hubungan kerjasama antara sekolah dengan lembaga – lembaga atau instansi – instansi resmi lain, baik swasta maupun pemerintah, seperti hubungan kerjasama antara sekolah dengan sekolah – sekolah lain, dengan kepala pemerintah setempat, jawatan penerangan, jawatan pertanian, perikanan dan peternakan, dengan perusahaan – perusahaan negara atau swasta yang  berkaitan dengan perbaikan dan perkembangan pendidikan pada umumnya.

2.2.4 Karakter Hubungan Sekolah dan Masyarakat
  Pada karakter hubungan sekolah dan masyarakat itu seperti hubungan yang bermakna dengan anggota masyarakat, organisasi, dan bisnis yang berkomitmen untuk bekerja secara kooperatif dengan tanggung jawab bersama untuk memajukan perkembangan intelektual, sosial, dan emosional siswa. . Kemitraan sekolah-masyarakat dapat berdampak pada keberhasilan siswa dan hasil pasca sekolah serta pengaruh positif dan menguntungkan masyarakat sebagai imbalannya.

2.2.5 Model Strategic Management untuk Humas
Pada model strategic management untuk humas itu menjelaskan atau menggambarkan dua peran hubungan masyarakat dalam strategic management secara menyeluruh dan dalam kegiatan humas itu sendiri. Pada tahapan ini mempunyai cakupan yang luas dan lebih bersifat analisis. 

2.2.6 Prinsip-Prinsip Hubungan Masyarakat Sekolah
Hubungan sekolah dan masyarakat haruslah terjalin secara baik agar tercapainya tujuan yang diinginkan antara sekolah dan masyarakat yang bersifat timbal balik. Dalam pelaksanaannya perlu dianut beberapa prinsip sebagai pedoman dan arah guru serta kepala sekolah dalam penyelenggaraan semua kegiatan yang berhubungan dengan masyarakat. Secara keseluruhan prinsip-prinsip hubungan sekolah dan masyarakat sebagai berikut:
1. Integrity Prinsip ini mengandung makna bahwa semua kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat harus terpadu.
2. Continuity Prinsip ini berarti bahwa pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat, harus dilakukan secara terus menerus.
3. Simplicity Prinsip ini menghendaki agar dalam proses hubungan sekolah dengan masyarakat yang dilakukan baik komunikasi personal maupun komunikasi kelompok pihak pemberi informasi (sekolah) dapat menyederhanakan berbagai informasi yang disajikan kepada masyarakat.
4. Coverage Prinsip ini juga mengandung makna bahwa segala informasi hendaknya lengkap, akurat dan up to date. Lengkap artinya tidak satu informasipun yang harus ditutupi atau disimpan, padahal masyarakat/orang tua murid mempunyai hak untuk mengetahui keberadaan dan kemajuan (progress) sekolah dimana anaknya belajar.
5. Constructiveness Program hubungan sekolah dengan masyarakat hendaknya kon-struktif dalam arti sekolah memberikan informasi yang konstruktif kepada masyarakat.
6. Adaptability Program hubungan sekolah dengan masyarakat hendaknya disesuaikan dengan keadaan di dalam lingkungan masyarakat tersebut. Penyesuaian dalam hal ini termasuk penyesuaian terhadap aktivitas, kebiasaan, budaya (culture) dan bahan informasi yang ada dan berlaku di dalam kehidupan masyarakat.

2.2.7 Teknik-Teknik Hubungan Masyarakat Sekolah
Dalam hubungan dengan masyarakat, ada teknik yang dapat dilakukan untuk memberikan gambaran tentang sekolah yang perlu diketahui oleh masyarakat. Diantaranya, laporan yang diperikan oleh sekolah kepada masyarakat atau orang tua murid, Buletin Bulanan, Penerbitan Surat Kabar, Pameran Sekolah, Open House, Kunjungan ke Sekolah, Kunjungan ke sekolah murid, Melalui radio dan televisi, dan laporan tahunan.
Kemudian ada juga sejumlah teknik yang kiranya dapat diterapkan lembaga pendidikan, teknik-teknik tersebut dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu teknik tertulis, teknik lisan, teknik peragaan dan teknik elektronik. Terjalinnya hubungan yang harmonis antara sekolah-masyarakat membuka peluang adanya saling koordinasi dan pengawasan dalam proses belajar mengajar di sekolah dan keterlibatan bersama memajukan peserta didik. Guru diharapkan selalu berbuat yang terbaik sesuai harapan masyarakat yaitu terbinanya dan tercapainya mutu pendidikan anak-anak mereka.
Semua teknik tersebut digunakan dalam rangka mengenalkan program sekolah  kepada masyarakat, agar masyarakat menaruh minat kepada sekolah, mau berpartisipasi terhadap kegiatan sekolah bahkan menajalin kerjasama dengan sekolah dan pada akhirnya mau memberi dukungan kepada sekolah baik yang bersifat materiil maupun moril.









BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
  Dari pembahasan materi prinsip dan teknik hubungan masyarakat sekolah didapatlah kesimpulan sebagai berikut :
1. Hubungan Sekolah dan Masyarakat merupakan jalinan interaksi yang di  upayakan oleh sekolah agar dapat diterima di tengah – tengah masyarakat untuk mendapatkan aspirasi, simpati, dari masyarakat.
2. Prinsip – prinsip hubungan sekolah dan masyarakat ada 6, yaitu : integrity, continuity, slimplicity, coverage, constructiveness, dan adaptability.
3.  Teknik – teknik hubungan sekolah dan masyarakat yaitu teknik lisan, tulisan, peragaan, dan elektronik.
4. Jenis – jenis hubungan sekolah dan masyarakat  yaitu hubungan edukatif, kultural, dan Intitusional.
5. Karakter yang terdapat dalam hubungan sekolah dan masyarakat yaitu hubungan sekolah dan masyarakat itu seperti hubungan yang bermakna dengan anggota masyarakat, organisasi, dan bisnis yang berkomitmen untuk bekerja secara kooperatif dengan tanggung jawab bersama untuk memajukan perkembangan intelektual, sosial, dan emosional siswa.
6. Model strategic management untuk humas yang bersifat analisis.










DAFTAR PUSTAKA

Agbo, Seth A. 2007. Addressing School-Community Relations in a Cross-Cultural Context: A Collaborative Action to Bridge the Gap Between First Nations and the School. Journal of Research in Rural Education. Vol. 22(8).

Bausherman at all. 2014. Proffessional  Development In Education Succesfull Models and Partices Pre K-12. New York. The Guildford Press.

Darmadi,2015. Mebangun paradigma baru kinerja guru. Jakarta : Guepedia.

Judith at all. 2015. Strong School-Community Parttnerships in Inclusive Schools Are “Part of the Fabric of the School... We Count on them”. Vol. 25. No. 2.

Martin at all. 2006. Community-Based Learning Engaging Students for Success and Citizenship. Washington. Institute for Educational Leadership.

Micah at all. 2017. Influence Of School-Community Relationship On The Management Of Secondary Schools In Southern Senatorial District Of Taraba State, Nigeria. International Journal Of Education, Humanities And Multidisciplinary Research.  Vol 9.No 2. ISBN 978-0-213168-1

Mulyasa, E. 2013. Implementasi Kurikulum Tingkat satuan pendidikan Kemandirian Guru Dan Kepala Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara.

Mulyono. 2011. Teknik Manajemen Humas dalam Pengembangan Lembaga Pendidikan Islam. Vol 17. No 1.

Pawlas, E. 2005. The Administrator’s Guide to School-Community Relation. Second Edition. Services Provided: Froelance Editorial Services.

Rahmat,abdul. 2016. Manajemen humas sekolah. Yogyakarta:media akademi.

Saad and Sadiq. 2014. The Relevance of School Community Relationship on the Development of Primary Education in Azare Metropolis of Bauchi State, Nigeria. Vol 4. No. 6 . ISSN. 2320 – 7388. 

Sharma rajendra dan chandra. 2004. Atlantic publishers and distributors. India:nice printing press
Sunaengsih,cucung. 2017. Pengelolaan pendidikan. Sumedang:UPI Press

Umar, M. 2016. Manajemen Hubungan Sekolah dan Masyarakat Dalam Pendidikan. Jurnal Edukasi. ISSN: 2460-4917. Vol. 2, No. 1.

Wati, efni. 2015. Manajemen Hubungan Sekolah dan Masyarakat. Manager Pendidikan. Vol 9. No 5.

Willems, Alyssa. 2012. School Community Partnership: Using Authentic Contexts to Academically Motivate Students. School Community Jurnal. Vol. 22, No 2.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar