Jumat, 07 Desember 2018

Makalah Pengelolaan Peserta Didik

MAKALAH
“Pengelolaan Pendidikan”
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengelolaan Pendidikan
Dosen Pengampu :
Dwi Agus Kurniawan, S.Pd.,M.Pd.

  

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 2
1. Nocy Revo Pramusti (A1C316006)
2. Miftahul Dwi Lestari (A1C316010)
3. Suci Kartika (A1C316014)
4. Yolanda Eka Putri (A1C316016)
5. Rita Apriana (A1C316048)
6. Metty Ermiati (A1C316066)


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat dan atas segala limpahan rahmat, taufik, serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah sesuai waktu yang telah direncanakan. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada baginda Nabi Besar Muhammad SAW. Penyusunan makalah ini merupakan tugas mata kuliah Pengelolaan Pendidikan di semester 5 tahun akademik 2018/2019.
Dalam penulisan makalah ini, tentunya banyak pihak yang telah memberikan bantuan baik moril maupun materil. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada :
1. Bapak Dwi Agus Kurniawan, S.Pd.,M.Pd. selaku dosen pembimbing mata kuliah ini.
2. Ucapan terima kasih kepada semua sahabat yang telah banyak memberikan bantuan, dorongan serta motivasi sehingga makalah  ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, maka saran dan kritik yang konstruktif dari semua pihak sangat diharapkan demi penyempurnaan selanjutnya.


Jambi,   Oktober 2018


Penulis

Daftar Isi
Kata Pengantar .........................................................................................................ii
Daftar Isi ..........................................................................................................iii
BAB I 1
PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 2
1.3Tujuan 2
BAB II 3
PEMBAHASAN 3
2.1 Landasan Teori 3
2.2 Kajian Kritis 32
BAB III 34
PENUTUP 34
3.1 Kesimpulan 34
3.2 SARAN 35
DAFTAR PUSTAKA 36


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Keberhasilan dalam penyelenggaraan lembaga pendidikan(sekolah) akan sangat bergantung kepada manajemen komponen-komponen pendukung pelaksanaan kegiatan seperti kurikulum, peserta didik, pembiayaan, tenaga pelaksana, dan sarana prasarana. Komponen-komponen tersebut merupakan satu kesatuan dalam upaya pencapaian tujuan lembaga pendidikan (sekolah), artinya bahwa satu komponen tidak ebih penting dari komponen lainnya. Akan tetapi sayu komponen memberikan dukungan bagi komponen lainnya sehingga memberikan kontribusi yang tinggi terhadap pencapaian tujuan lembaga pendidikan (sekolah) tersebut. 
Komponen peserta didik keberadaannya sangat dibutuhkan, terlebih bahwa pelaksanaan kegiatan pendidikan di sekolah, peserta didik merupakan subyek sekaligus objek  dalam proses transformasi   ilmu pengetahuan dan keterampilan-keterampilan yang diperlukan. Oleh karena itu keberadaan peserta didik tidak hanya sekedar  memenuhi kebutuhan saja, akan tetapi  harus merupakan bagian sdari kebermutuan dari lembagaan pendidikan (sekolah) itu sendiri. Sehingga peserta didik itu dapat dapat tumbuh dan  berkembang sesuai  dengan potensi fisik, kecerdasan intelektual, social, emosional, dan kejiwaan peseta didik.
Kebutuhan peserta didik  dalam mengembangkan dirinya tentu saja beragam dalam hal pemrioritasan, seperti disatu sisi para peserta  didik ingin sukses dalam hal prestasi akademiknya, disisi lain ia juga ingin sukses dalam hal sosialisasi dengan teman sebayanya. Bahkan ada  juga peserta didik yang ingin sukses dalam segala hal. Pilihan-pilihan yang tepat atas keberagaman keinginan tersebut tidak jarang menimbulkan masalah bagi peserta didik. Oleh karena itu diperlukan layanan bagi peserta didik yang dikelola dengan baik. Manajemen peserta didik berupaya mengisi kebutuhan akan layanan yang baik tersebut, mulai dari peserta didik tersebut mendaftarkan diri kesekolah sampai peserta didik tersebut menyelesaikan studi di sekolah tersebut   
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian Pengelolaan Peserta Didik ?
2. Apa Tujuan dan Fungsi Pengelolaan Peserta Didik ?
3. Bagaimana Langkah-Langkah Pengelolaan Peserta Didik ?
1.3Tujuan
1. Dapat Mengetahui Pengertian Pengeloaan Peserta Didik
2. Dapat Mengetahui Fungsi Pengelolaan Peserta Didik
3. Dapat Mengetahui Langkah-Langkah Pengelolaan Peserta Didik
BAB II 
PEMBAHASAN
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Pengertian Pengelolaan Peserta didik 
Peserta didik adalah siapa saja yang terdaftar sebagai objek didik di suatu lembaga pendidikan. Munurut UU Sisdiknas, peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur,jenjang, dan jenis pendidikan tertentu. Jadi bisa diartikan bahwa peserta didik adalah seseorang yang terdaftar dalam suatu jalur, jenjang, dan jenis lembaga pendidikan tertentu, yang selalu ingin mengembangkan potensi dirinya baik pada aspek akademik maupun nonakademik, melalui proses pembelajaran yang diselenggarakan (Hermino, 2013:165-167).
Peserta didik merupakan unsur inti kegiatan pendidikan. Di era persaingan antar lembaga pendidikan yang begitu ketat seperti sekarang ini, sekolah harus berjuang secara sungguh-sungguh untuk mendapatkan peserta didik. Bahkan ada ketua yayasan pendidikan yang mengatakan bahwa mencari peserta didik jauh lebih sulit ketimbang mencari guru baru. Mananjemen kesiswaan bukan hanya berbentuk pencatatan data peserta didik, melainkan meliputi aspek yange lebih luas secara operasional dapat membantu upaya pertumbuhan dan perkembangan peserta didik melalui proses pendidikan di sekolah. Adapun layanan khusus peserta didik meliputi layanan bimbingan dan konseling, layanan perpustakaan, layanan kantin/kafetarian, layanan kesehatan, layanan transformasi sekolah, layanan asrama, dan layanan ekstrakurikuler, layanan laboratorium, dan keamanan. Pelayanan khusus diselenggarakan di sekolah dengan maksud untuk memperlancar pelaksanaan pengajaran dalam rangka pencapain tujuan pendidikan di sekolah. Manajemen layanan khusus adalah suatu proses kegiatan memberikan pelayanan kebutuhan kepada peserta didik untuk menunjang kegiatan pembelajaran agar tujuan pendidikan bisa tercapai secara efektif dan efisien (Putra,2016:1). 
Keberadaan manajemen peserta didik sangat dibutuhkan di lembaga pendidikan karena siswa merupakan subjek sekaligus objek dalam proses transformasi ilmu dan keterampilan. Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan akan sangat bergantung pada pengembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual,social emosional dan kejiwaan peserta didik, manajemen peserta didik merupakan penataan dan pengaturan terhadap kegiatan yang berkaitan dengan peserta didik, mulai dari siswa itu masuk sampai dengan keluar dari suatu sekolah. Manajemen peserta didik tidak semata mencatat data peserta didik, tetapi meliputi aspek yang lebih luas, yaitu membantu upaya pertumbuhan anak melalui proses pendidikan sekolah (Hermino,2013: 165-167). 
Manajemen peserta didik dapat diartikan sebagai usaha pengaturan terhadap peserta didik. Mulai dari peserta didik tersebut masuk sekolah sampai dengan mereka lulus. Yang diatur secara langsung adalah segi-segi yang berkenaan dengan peserta didik secara tidak langsung. Pengaturan terhadap segi-segi lain selain peserta didik dimaksudkan untuk memberikan layanan yang sebaik mungkin kepada peserta didik (Imron.2011:6).
Manajemen  peserta didik dapat juga diartikan sebagai usaha pengaturan terhadap peserta didik juga dapat diartikan sebagai usaha pengaturan terhadap peserta didik mulai dari peserta didik tersebut masuk sekolah sampai dengan mereka lulus sekolah. Dengan demikian, manajemen peserta didik itu bukanlah dalam bentuk kegiatan-kegiatan pencatatan peserta didik saja, melainkan meliputi aspek yang lebih luas, yang secara operasional dapat dipergunakan untuk membantu kelancaran upaya pertumbuhan dan perkembangan peserta didik melalui proses pendidikan.
Adanya manajemen peserta didik merupakan upaya untuk memberikan layanan yang sebaik mungkin kepada peserta ddik semenjak dari proses penerimaan sampai saat peserta didik meninggalkan lembaga pendidikan (sekolah) karena sudah tamat/lulus mengikuti pendidikan pada lembaga pendidikan (sekolah) itu (Tim Dosen.2014:205).
Manajemen peserta didik atau kesiswaan merupakan salah satu bidang operasional MBS. Manajemen peserta didik adalah pengaturan terhadap kegiatan yang berkaitan dengan peserta didik. Mulai dari seorang peserta didik mendaftarkan diri di sebuah sekolah sampai dengan kelulusan peserta didik meninggalkan sekolah yang bersangkutan (Abas.2012:80).
Manajemen peserta didik itu bukan lah dalam bentuk kegiatan-kegiatan pencatatan peserta didik saja, malainkan meliputi aspek yang lebih luas,yang secara operasional dapat dipergunakan untuk membantu kelancaran upaya pertumbuhan dan perkembangan peserta didik melalui proses pendidikan 
Manajemen peserta didik layanan yang memusatkan perhatian pada pengaturan,pengawasan,dan layanan siswa dikelas dan diluar kelas seperti pengenalan, pendaftaran, dan pelayanan individual. Manajemen peserta didik juga dapat diartikan sebagai usaha pengaturan terhadap peserta didik mulai dari peserta didik tersebut masuk sekolah sampai dengan mereka lulus sekolah. Manajemen peserta didik merupakankegiatan-kegiatan yang bersangkutan dengan masalah kesiswaan disekolah (Indrawan.2015:8). 
Manajemen kesiswaan (peserta didik) menduduki tempat yang sangat penting karena pusat layanan pendidikan sekolah adalah peserta didik. Keseluruhan aspek manajemen pendidikan yang berkaitan dengan manajemen kurikulum, tenaga pendidik, sarana prasarana, hubungan masyarakat, keuangan dan layanan khusus, seluruhnya diarahkan pada peserta didik/siswa. Hal tersebut dimaksudkan agar peserta didik mendapatkan pelayanan terbaik guna menunjang prestasi mereka dalam proses pembelajaran.
Manajemen peserta didk/kesiswaan sebagai suatu layanan yang memusatkan perhatian pada pengaturan, pengawasan dan layanan siswa dikelas dan diluar kelas, seperti pengenalan, pendaftaran, layanan individual (misalnya pengembangan kemampuan,minat,kebutuhan) sampai ia matang disekolah.
Disimpulkan bahwa Manajemen Peserta Didik adalah layanan yang memusatkan perhatian pada pengaturan, pengawasan, dan layanan siswa di kelas dan di luar kelas seperti: pengenalan, pendaftaran, layanan individual seperti pengembangan keseluruhan kemampuan, minat, kebutuhan sampai ia matang di sekolah. Dari beberapa pengertian dan pendapat diatas dapat diartikan bahwa manajemen peserta didik inklusif adalah memusatkan perhatian pada pengaturan, pengawasan, dan layanan peserta didik inklusif dari peserta didik tersebut masuk sekolah sampai lulus sekolah (Dian,2017:201-207).
The average person in the street has a clear picture teaching. It consist of a teacher standing in front of a large number of student in a classroom telling them. It is simply a matter of teacher talking and student listening. If only teachers would tell students more and make them listen,educational standars would inprove (Dickinson ,2001:9).
Terjemahan: 
Rata-rata orang di jalan memiliki pengajaran gambar yang jelas. Ini terdiri dari seorang guru yang berdiri di depan sejumlah besar siswa di kelas yang memberi tahu mereka. Ini hanya masalah berbicara guru dan mendengarkan siswa. Jika hanya guru yang memberi tahu siswa lebih banyak dan membuat mereka mendengarkan, standar pendidikan akan terbukti (Dickinson ,2001:9).

2.1.2 Tujuan dan Fungsi Pengelolaan Peserta Didik
A. Tujuan Pengelolaan Peserta Didik
Menurut Rahmi (2014:528), peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi kebutuhan mendesak yang perlu diprioritaskan oleh pemerintah dalam mengahadapi era globalisasi. Dalam hal ini sekolah adalah suatu lembaga pendidikan sebagai tempat penyelenggaraan proses belajar mengajar untuk membimbing, mendidik, melatih, dan mengembangkan potensi anak didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Untuk mencapai tujuan di atas, salah satu yang dapat dilakukan adalah melalui kegiatan belajar oleh anak-anak Indosesia secara terus menerus dan berkesinambungan disekolah-sekolah atau lembaga pendidikan formal. Selain itu sekolah merupakan salah satu lingkungan pendidikan yang berpotensi besar untuk membantu siswa mencapai tugas perkembangannya. Sekolah tidak hanya mendidik siswa dalam aspek kognitif saja, tetapi juga mengembangkan aspekaspek lainnya, termasuk aspek sosial. Sekolah sebagai instusi pendidikan formal telah banyak mengalami perubahan. Peran kepala sekolah sangat diperlukan dalam hal ini guna mencapai tujuan pendidikan. Kepala sekolah sebagai guru yang mendapat tugas tambahan untuk mengelola sekolah. Kepala sekolah menjadi orang yang paling betanggung jawab terhadap kemajuan sekolah.Maka itu, sekolah juga harus memperhatikan kegiatan dalam manajemen peserta didik untuk menghasilkan peserta didik yang efisien dan sesuai dengan tujuan pendidikan itu sendiri. 
Tujuan  manajemen peserta didik adalah mengatur kegiatan-kegiatan peserta didik agar kegiatan-kegiatan peserta didik agar kegiatan tersebut menunjang proses pembelajaran di lembaga pendidikan (sekolah); lebih lanjut, proses pembelajaran dilembaga tersebut (sekolah) dapat berjalan lancar, tertib dan teratur sehingga dapat meberikan kontribusi bagi pencapaian tujuan sekolah dan tujuan pendidikan secara keseluruhan (Tim Dosen.2014:206). 
Manajemen  peserta didik bertujuan  mengatur berbagai kegiatan dalam bidang kesiswaan agar kegiatan pembelajaran di sekolah lancar, tertib dan teratur. Beberapa ahli berpendapat bahwa tujuan manajemen peserta didik adalah untuk menciptakan kondisi lingkungan sekolah yang baik serta agar siswa dapat belajar dengan tertib sehingga tercapai tujuan pengajaran yang efektif dan efisien. Ada tiga tugas utama dalam bidang manajemen peserta didik untuk mencapai tujuan tersebut yaitu penerimaan peserta didik, kegiatan kemajuan belajar serta bimbingan dan pembinaan disiplin (Ariska,dkk.2015:828).
Menurut Imron (2011:11-13), tujuan umum MPDBS adalah mengatur kegiatan-kegiatan peserta didik agar kegiatan-kegiatan tersebut menunjang proses belajar mengajar disekolah. Lebih lanjut, proses belajar mengajar disekolah dapat berjalan lancer, tertib dan teratur sehingga dapat memberikan kontribusi bagi pencapaian tujuan sekolah dan tujuan pendidikan secara keseluruhan.
Tujuan khusus MPDBS adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan psikomotor peserta didik.
2. Menyalurkan dan mengembangkan kemampuan umum (kecerdasan), bakat dan minat peserta didik.
3. Menyalurkan aspirasi, harapan dan memenuhi kebutuhan peserta didik.
4. Dengan terpenuhinya 1, 2, 3 di atas diharapkan peserta didik dapat mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan hidup yang lebih lanjut dapat belajar dengan baik dan tercapai cita-cita mereka. 

Menurut Saifuddin (2018:56),  tujuan umum manajemen peserta didik adalah mengatur kegiatan-kegiatan peserta didik agar kegiatan-kegiatan tersebut menunjang proses belajar mengajar di sekolah; lebih lanjut, proses belajar mengajar di seklah dapat berjalan dengan lancar, tertib dan teratur sehingga dapat memberikan kontribusi bagi pencapai tujuan sekolah dan tujuan pendidikan secara keseluruhan.
Tujuan khusus pengelolaan peserta didik adalah sebagaimana yang disebutkan dibawah ini:
1. Meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan psikomotor peserta didik
2. Menyalurkan dan mengembangkan kemampuan umum (kecerdasan), bakat dan minat peserta didik
3. Menyalurkan aspirasi, harapan dan memenuhi kebutuhan peserta didik

Menurut Junaidi (2015:39), tujuan manajemen peserta didik adalah mengatur kegiatan-kegiatan peserta didik agar  kegiatan-kegiatan tersebut menunjang proses belajar mengajar di sekolah, yaitu :
1) meningkatkan pengetahtuan, ketrampilan dan psikomotor peserta didik; 
2) menyalurkan dan mengembangkan kemampuan umum, bakatdan minat peserta didik;
3) menyalurkan aspirasi, harapan, dan memenuhi kebutuhan peserta didik; 
4) dengan terpenuhinya 1, 2 dan 3 di atas diharapkan peserta didik dapat mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan hidup, dapat belajar dengan baik dan tercapai cita-cita mereka.

B. Fungsi Pengelolaan Peserta Didik
Menurut Tim Dosen (2014:206), Fungsi manajemen peseta didik adalah sebagai wahana bagi peserta didik untuk mengembangkan diri se-optimal mungkin, baik yang berkenaan dengan segi-segi individualitasnya, segi sosial, aspirasi kebutuhan dan segi-segi potensi peserta didik lainnya. Agar tujuan dari fungsi manajemen peserta didik dapat tercapai, ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaannya. 
Menurut Imron (2011:12-13), fungsi MPDBS secara umum adalah sebagai wahana bagi peserta didik untuk mengembangkan diri seoptimal mungkin, baik yang berkenan dengan segi-segi individualitasnya, solusinya, aspirasinya, kebutuhannya dan potensi lainnya peserta didik.
Menurut Saifuddin (2018:57-58), fungsi manajemen peserta didik secara umum adalah : sebagai wahana bagi peserta didik untuk mengembangkan potensi-potensi individualitasnya, segi sosialnya, segi aspirasinya, segi kebutuhannya dan segi-segi potensi peserta didik lainnya. Fungsi manajemen peserta didik secara khusus dirumuskan sebagai berikut :
1. Fungsi yang berkenaan dengan individualitas peserta didik, ialah agar mereka dapat mengembangkan potensi-potensi individualitasnya tanpa banyak terhambat. Potensi-potensi bawaan tersebut meliputi : kemampuan umum (kecerdasan), kemampuan khusu (bakat), dan kemampuan lainnya.
2. Fungsi yang berkenaan dengan pengembangan fungsi sosial peserta didik ialah agar peserta didik dapat mengadakan sosialisasi dengan sebayanya, dengan orang tua dan keluarganya, dengan lingkungan sosial masyarakatnya. Fungsi ini berkaitan dengan hakekat peserta didik sebagai makhluk sosial.
3. Fungsi yang berkenaan dengan penyaluran aspirasi dan harapan peserta didik, ialah agar peserta didik tersalur hobi, kesenangan dan minatnya. Hobi, kesenangan dan minat peserta didik demikian patut disalurkan, oleh karena ia juga dapat menunjang terhadap perkembangan diri peserta didik secara keseluruhan.
4. Fungsi yang berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan dan kesejahteraan peserta didik ialah agar peserta didik sejahtera dalam hidupnya. Kesejahteraan demikian sangat penting karena dengan demikian ia akan juga turut memikirkan kesejahteraan sebayanya.
Menurut Sunaengsih (2017:133), secara khusus, manajemen peserta didik berfungsi sebagai berikut :
a. Fungsi yang berkenaan dengan perkembangan individualitas peserta didik, yaitu agar peserta didik dapat mengembangkan potensi-potensi individualitasnya tanpa banyak terhambat, potensi bawaan tersebut meliputi : kecerdasan, kemampuan khusus dan kemampuan lainnya.
b. Fungsi yang berkenaan dengan perkembangan fungsi sosial peserta didik, ialah peserta didik dapat mengadakan sosialisasi dengan teman sebayanya, dengan orang tua, keluarga, dengan lingkungan social sekolahnya dan lingkungan social masyarakat.
c. Fungsi yang berkenaan dengan penyaluran aspirasi dan harapan peserta didik, ialah agar peserta didik tersalur hobinya, kesenangan dan minatnya karena hal itu dapat menunjang terhadap perkembangan diri peserta didik secara keseluruhan.
d. Fungsi yang berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan dan kesejahteraan peserta didik.

According Schraeder (2014 : 53-56), the four common functions of management include planning, organizing, leading and Controlling. Leung and Kleine (2004) suggest thatthese four functions are necessary, but not sufficient in promulgating successful management, with strong emphasis placed on adopting practices that include a focus on employees within organizations. 
a. Planning
Planning is typically where the direction of the organization is established through a variety of activities including the development of goals.As such, the planning function of management embodies various levels of decision making.Allowing employees to participate in making these decisions may generate additional ideas that offer valuable insights.
b. Organizing. 
The organizing function of management is comprised of numerous activities directly or indirectly related to the allocation of resources in ways that support the achievement of goals and plans that were developed in the planning function.
c. Leading
acknowledge that trust is embedded within a variety of leadership theories. The value and importance of trust cannot be overstated, regardless of the leadership style or philosophy of the leader.
d. Controlling
The fourth function of management, control, includes managerial efforts directed toward monitoring both organizational and employee performance and progress toward goals Schraeder.
Terjemahan :
Menurut Schraeder (2014:53-56), keempat fungsi umum manajemen termasuk perencanaan, pengorganisasian,memimpin dan mengendalikan. Leung dan Kleiner (2004) Menyarankan bahwa keempat fungsi ini diperlukan, tetapi tidak cukup dalam mengumumkan manajemen yang sukses, dengan penekanan kuat padamengadopsi praktik yang mencakup fokus pada karyawan dalam organisasi.
a. Perencanaan.
Perencanaan biasanya di mana arah organisasi dibentukberbagai kegiatan termasuk pengembangan tujuan.Dengan demikian, fungsi perencanaanmanajemen mewujudkan berbagai tingkat pengambilan keputusan.Mengizinkan karyawan untukberpartisipasi dalam  pembuatan keputusan ini dapat menghasilkan gagasan tambahan yang menawarkan wawasan berharga.
b. Mengatur.
Fungsi pengaturan manajemen terdiri dari berbagai kegiatan
langsung atau tidak langsung terkait dengan alokasi sumber daya dengan cara yang mendukung pencapaiantujuan dan rencana yang dikembangkan dalam fungsi perencanaan   
c. Terkemuka.
kepercayaan tertanam dalam berbagai hateori kepemimpinan.Nilai dan pentingnya kepercayaan tidak bisa dilebih-lebihkan, terlepas darigaya kepemimpinan atau filosofi pemimpin.
d. Mengontrol.
Fungsi keempat manajemen, kontrol, termasuk upaya manajerial diarahkan untuk memantau kinerja organisasi dan karyawan serta kemajuan menuju sasaran Schraeder.
According Griffin (2007 : 8)Regardless of level or area, management involves the four basic functions of planning and decision making, organizing, leading, and controlling. This book is organized around these basic functions.

a. Planning and decision making 
In its simples from, planning means setting an organizations goals and deciding how best to to achieve them. Decision making a part of the planning process, involves selecting a course of action from a set of alternatives. Planning and decision making help mainting managerial offectivenness by serving as guides for future activities. Part two of this text is devoted to planning and decision-making activities an concepts .
b. Organizing 
Once a manager has set goals and developed a workable plan, the next management function is is to organize people and the other resources necessary to carry out the plan. Specifically, organizing involves determining how activities and resources are to be grouped. 
c. Leading 
The third basic managerial functions is leading. Some people consider leading to be both the most important and the most challenging of all managerial activities. Leading is the set of processes used to get members of the organization to work to gether to further the interests og the organization.
d. Controlling 
The final phase of the management process is controlling, or monitoring the organizations progress toward its goals.

Terjemahan :
a. Fungsi manajemen dasar 
Terlepas dari level atau area, manajemen melibatkan empat fungsi dasar perencanaan dan pengambilan keputusan, pengorganisasian, memimpin, dan mengendalikan. Buku ini disusun berdasarkan fungsi-fungsi dasar ini. 
b. Perencanaan dan pengambilan keputusan.
Dalam kesederhanaannya dari, perencanaan berarti menetapkan tujuan organisasi dan memutuskan cara terbaik untuk mencapainya. Pengambilan keputusan menjadi bagian dari proses perencanaan, melibatkan pemilihan suatu tindakan dari serangkaian alternatif. Perencanaan dan pengambilan keputusan membantu mempertahankan kelalaian manajerial dengan melayani sebagai panduan untuk kegiatan di masa depan. Bagian dua dari teks ini dikhususkan untuk kegiatan perencanaan dan pengambilan keputusan suatu konsep
c. Mengatur
Setelah seorang manajer menetapkan tujuan dan mengembangkan rencana yang bisa diterapkan, fungsi manajemen selanjutnya adalah mengatur orang dan sumber daya lain yang diperlukan untuk melaksanakan rencana. Secara khusus, pengorganisasian melibatkan penentuan bagaimana kegiatan dan sumber daya harus dikelompokkan.
d. Terkemuka
Fungsi manajerial dasar ketiga memimpin. Beberapa orang menganggap memimpin menjadi yang paling penting dan paling menantang dari semua kegiatan manajerial. Memimpin adalah seperangkat proses yang digunakan untuk membuat anggota organisasi bekerja keras untuk memajukan kepentingan organisasi.
e. Mengontrol
Fase terakhir dari proses manajemen adalah mengendalikan, atau memantau kemajuan organisasi menuju sasarannya.

C. Prinsip-Prinsip Pengelolaan Peserta Didik

Menurut Sunaengsih (2017:133), adapun prinsip-prinsip yang harus dilaksanakan dalam melaksanakan manajemen peserta didik adalah sebagai berikut :
a. Manajemen peserta didik sebagai bagian dari keseluruhan manajemen sekolah, sehingga harus mempunyai kesamaan visi, misi, dan tujuan manajemen sekolah secara  keseluruhan. Penempatan manajemen peserta didik ditempatkan pada kerangka manajemen sekolah, tidak boleh ditempatkan di luar system sekolah.
b. Segala bentuk kegiatan manajemen peserta didik harus mengemban visi pendidikan dan dalam rangka mendidik peserta didik.
c. Kegiatan manajemen peserta didik harus diupayakan untuk mempersatukan peserta didik yang mempunyai aneka ragam latar belakang dan punya bakat perbedaan. Perbedaan di antara peserta didik tidak diarahkan pada konflik diantara mereka, akan tetapi justru untuk mempersatukan dan saling memahami dan menghargai.
d. Kegiatan manajemen peserta didik harus dipandang sebagai upaya pengaturan terhadap pembimbingan peserta didik, disini diperlukan kerja sama yang baik dan harmonis antara pembimbang dan yang dibimbing atau peserta didik.
e. Kegiatan manjemen peserta didik harus mendorong dan memacu kemandirian peserta didik, dimana kemandirian ini akan memotivasi anak untuk tidak selalu tergantung pada orang lain, dan dapat melakukan segala kegiatan secara mandiri. Hal itu sangan bermanfaat bagi peserta didik, baik di lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat.
f. Segala kegiatan yang diupayakan oleh manajemen peserta didik harus bersifat fungsional bagi kehidupan peserta didik di sekolah maupun bagi masa depannya.

2.1.3 Langkah – Langkah Pengelolaan Peserta Didik
Semua kegiatan di sekolah pada akhirnya ditujukan untuk membantu peserta didik mengembangkan dirinya. Upaya itu akan optimal jika peserta didik itu secara sendiri berupanya aktif mengembangkan diri sesuai dengan program-program yang dilakukan disekolah. Oleh karena itu sangat penting untuk menciptakan kondisi agar peserta didik dapat mengembangkan diri secara optimal. Sebagai pemimpin disekolah, kepala sekolah memegang peran penting dalam menciptakan kondisi tersebut.
Dengan demikian manajemen peserta didik itu bukanlah dalam bentuk pencatatan data peserta didik saja, melainkan meliputi aspek yang lebih luas yang secara operasional dapat digunakan untuk membantu kelancaran upaya pertumbuhan dan perkembangan peserta didik melalui proses pendidikan di sekolah.
Ruang lingkup manajemen peserta didik itu meliputi :
A. Sistem Penerimaan Peserta Didik Baru
Ada dua macam sistem yang diguakan dalam penerimaan peserta didik baru yaitu sebagai berikut :
a. Sistem promosi, merupakan penerimaan peserta didik baru yang sebelumnya tanpa melakukan seleksi. Mereka yang mendaftar disuatu sekolah, diterima befitu saja. Sistem yang demikian biasanya berlaku pada sekolah-sekolah yang pendaftarannya kurang dari jatah atau daya tampung yang ditentukan; dan
b. Sistem seleksi, ini dapat digolongkan memjadi tiga macam, yang pertama, seleksi berdasarkan daftar nilai ebta murni (DANEM), yang kedua berdasarkan penelusuran bakat minat dan kemampuan (PMDK), yang ketiga adalah seleksi berdasarkan tes masuk.
The Student Admission System when fully implemented can be used by any School within most educational establishments (in the U.K.). The rest of this section covers the advantages of using the proposed approach:
The adopted apploach, stores she rules in an independent date dictionary DB where they can be edited or replaced, either by using the independent C module or the DBMS itself. Therefore them is a greater flexibility in adding new rules 10 the system (Karagianis,1991:26).
Terjemahan :
Sistem Penerimaan Siswa ketika diterapkan sepenuhnya dapat digunakan oleh Sekolah mana pun dalam sebagian besar lembaga pendidikan (di Inggris). Bagian selanjutnya dari bab ini mencakup keuntungan menggunakan pendekatan yang diusulkan:
Apploach yang diadopsi, menyimpan dia aturan dalam kamus tanggal independen DB di mana mereka dapat diedit atau diganti, baik dengan menggunakan modul C independen atau DBMS itu sendiri. Oleh karena itu mereka lebih fleksibel dalam menambahkan aturan baru 10 sistem (Karagianis,1991:26).

B. Kriteria Penerimaan Peserta Didik Baru
Menurut Kristiawan,dkk (2017:71), kriteria adalah patokan-patokan yang menentukan bisa atau tidaknya sesorang untuk diterima sebagai peserta didik. Ada tiga macam kriteria penerimaan peserta didik yaitu sebagai berikut :
a. Kriteria acuan patokan (standard criterian referenced), merupakan suatu penerimaan peserta didik baru yang didasarkan atas patokan-patokan yang telah ditentukan sebelumnya. Dalam hal ini sekolah akan membuat patokan bagi calon peserta didik baru., bagi mereka yang memenuhi patokan yang dibuatnsekolah maka akan dapat diterima disekolah tersebut, dan bagi mereka yang toidak memenuhi patokan maka tidak akan diterima;
b. Kriteria acuan norma (norm criterian referenced), yaitu penerimaan peserta didik yang didasarkan atas keseluruhan prestasi peserta didik yang mengikuti seleksi. Dalam hal ini sekolah menetapkan kriteria penerimaan berdasarkan prestasi keseluruhan peserta didik baru; dan
c. Kriteria berdasrkan daya tampung sekolah. Sekolah terlebih dahulu menentukan berapa jumlah daya tampung , calaon peserta didik yang akan diterima


C. Analisis kebutuhan peserta didik
Menurut Tim Dosen (2014:207-214), langkah pertama dalam kegiatan manajemen peserta didik adalah melakukan analisis kebutuhan yaitu penentapan siswa yang dibutuhkan oleh lembaga pendidikan (sekolah). Kegiatan yang dilakukan dalam langkah ini adalah :
1) Merencanakan jumlah peserta didik yang akan diterima
Penentuan jumlah peserta didik yang akan diterima perlu dilakukan sebuah lembaga pendidikan, agar layanan terhadap peserta didik bias dilakukan secara optimal. Besarnya jumlah peserta didik yang akan diterima harus mempertimbangkan hal-hal berikut :
Daya tampung kelas atau jumlah kelas yang tersedia. 
Jumlah peserta didik dalam satu kelas (ukuran kelas) berdasarkan kebijakan pemerintah berkisar antara 40-45 orang. Sedangkan ukuran kelas yang ideal secara teoritik berjumlah 25-30 peserta didik per satu kelas.
Rasio murid dan guru.
Yang dimaksud rasio murid guru adalah perbandingan antara banyaknya peerta didik dengan guru perfultimer. Secara ideal rasio murid guru adalah 1 : 30.
2) Menyusun program kegiatan kegiatan kesiswaan.
Penyusunan program kegiatan bagi siswa selama mengikuti pendidikan di sekolah harus di dasarkan pada :
Visi dan misi lembaga pendidikan (sekolah) yang bersangkutan
Minat dan bakat peserta didik
Sarana dan prasarana yang ada
Anggaran yang tersedia
Tenaga kependidikan yang tersedia.

D. Rekruitmen peserta didik 
Rekruitmen peserta didik di sebuah lembaga pendidikan (sekolah) pada hakikatnya adalah merupakan proses pencarian, menentukan dan menarik pelamar yang mampu untuk menjadi peserta didik di lembaga pendidikan (sekolah) yang bersangkutan. Langkah-langkah rekruitmen peserta didik (siswa baru) adalah sebagai berikut :
1) Pembentukan panitia penerimaan siswa baru.
Pembentukan panitia ini disusun secara musyawarah dan terdiri dari semua unsur guru, tenaga tata usaha, dan dewan sekolah/komite sekolah. Susunan kepanitian disebuah sekolah biasanya mencakup :
Ketua Umum :
Ketua Pelaksana :
Sekretairis :
Bendahara :
Anggota/seksi :
Panitia ini bertugas mengadakan pendaftaran calon siswa, mengadakan seleksi dan menerima pendaftaran kembali siswa yang diterima.
2) Pembuatan dan pemasangan pengumuman penerimaan peserta didik baru yang dilakukan secara terbuka.
Pengumuman penerimaan siswa baru ini berisi hal-hal sebagai berikut:
Gambaran singkat lembaga pendidikan (sekolah) yang meliputi, sejarah sekolah, visi dan misi sekolah, kelengkapan fasilitas sekolah, tenaga kependidikan yang dimiliki serta hal-hal lain yang perlu disampaikan pada calon pelamar.
Persyaratan pendaftaran siswa baru minimal meliputi, surat sehat dari dokter, ada batasan usia yang ditunjukkan dengan akte kelahiran (TK maksimal 6 tahun, SD maksimal 12 tahun, SLTP maksimal 15 tahun, SLTA maksimal 18 tahun), surat keterangan berkelakuan baik, salinan nilai (raport/STTB/nilai UAN) dari sekolah sebelumnya, melampirkan pas foto (3 x 4 atau 4 x 6).
Cara pendaftaran. Ada dua cara yaitu secar individual oleh masing-masing calon peserta didik yang dating ke lembaga pendidikan (sekolah) yang dituju atau secara kolektif oleh pihak sekolah dimana peserta didik sekolah sebelumnya.
Waktu pendaftaran, yang memuat kapan waktu pendaftaran dimulai dan kapan kapan waktu pendaftaran diakhiri. Waktu pendaftaran ini meliputi hari, tanggal, dan jama pelayanan. 
Berapa uang pendaftaran dan kepada siapa uang tersebut diserahkan (melalui petugas pendaftaran atau bank yang ditunjuk), serta bagaimana pembayarannya (tunai atau bisa di angsur).
Waktu dan tempat seleksi yang meliputi hari, tanggal, jam dan tempat seleksi.
Pengumuman hasil seleksi yang meliputi waktu pengumuman hasil seleksi dan dimana calon peserta didik dapat memperolehnya.

E. Seleksi peserta didik
Seleksi peserta didik adalah kegiatan pemilihan calon peserta didik untuk menentukan diterima atau tidaknya calon peserta didik menjadi peseta didik di lembaga pendidikan (sekolah) berdasarkan ketentuan yang berlaku.
Seleksi peserta didik penting dilakukan terutama bagi lembaga pendidikan (sekolah) yang calon peserta didiknya melebihi dari daya tampung yang tersedia di lembaga pendidikan (sekolah) tersebut. Adapun cara-cara seleksi yang dapat digunakan adalah :
1) Melalui tes atau ujian.
Adapun tes ini meliputi psikotest, tes jasmani, tes kesehatan, tes akademik atau tes keterampilan.
2) Melalui penulusuran bakat dan kemampuan.
Penulusuran ini biasanya didadarkan pada prestasi yang diraih oleh calon peserta didik dalam bidang olahraga atau kesenian.
3) Berdasarkan nilai STTB atau nilai UAN.
Dari hasil seleksi terhadap peserta didik dihasilkan kebijakan sekolah yaitu : peserta didik yang diterima dan peserta didik yang tidak terima. Bahkan bila diperlukan ada kebijakan peserta didik yang diterima tetapi sebagai cadangan.
Setelah ditetapkan peserta didik yang diterima dan tidak diterima, kemudian diumumkan. Pengumuman hasil seleksi sebaiknya dilakukan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, supaya tidak menimbulkan keresahan bagi calon peserta didik. Pengumuman ini bisa dilakukan secara terbuka atau secara tertutup. Secara terbuka biasanya diketahui oleh semua orang baik yang diterima atau yang tidak diterima. Biasanya hasil seleksi di tempel ditempat-tempat yang strategis atau melalui media massa. Pengumuman secara tertutup biasanya melalui surat atau amplop tertutup yang diberikan kepada calon peserta didik, sehingga yang mengetahui diterima atau tidak diterima hanya calon peserta didik yang bersangkutan.
Bagi calon peserta didik yang diterima diharuskan mendaftar ulang pada lembaga pendidikan (sekolah) yang menerimanya. Pada waktu daftar ulang, biasanya calon peserta didik harus melengkapi persyaratan-persyaratan administratif yang berguna bagi pengisian data peserta didik di lembaga pendidikan (sekolah) tersebut.
The first step to become a student after the selection is passed the re-registration process, this is done with the hope prospective students who pass can be immediately recorded its willingness to become a candidate student. At the time of reregistration sometimes there are students who do not come (Ahmar. 2016: 52). 
Langkah pertama untuk menjadi siswa setelah seleksi adalah melewati proses pendaftaran ulang, hal ini dilakukan dengan harapan calon siswa yang lulus dapat segera mencatat kesediaannya untuk menjadi calon siswa. Pada saat registrasi ulang kadang ada siswa yang tidak dating (Ahmar. 2016: 52).

F. Orientasi
Orientasi peserta didik (siswa baru) adalah kegiatan penerimaan siswa baru dengan mengenalkan situasi dan kondisi lembaga pendidikan (sekolah) tempat peserta didik itu menempuh pendidikan. Situasi dan kondisi ini menyangkut lingkungan fisik sekolah dan lingkungan sosial sekolah. Lingkungan fisik sekolah seperti jalan menuju sekolah, halaman sekolah, tempat olahraga, gedung dan perlengkapan sekolah serta fasilitas- fasilitas lainnya yang disediakan lembaga. Sedangkan lingkungan sosial sekolah meliputi kepala sekolah, guru-guru, tenaga TU, teman sebaya, kakak-kakak kelas, peraturan atau tata tertib sekolah, layanan-layanan sekolah bagi peserta didik serta kegiatan-kegiatan dan organisasi kesiswaan yang ada dilembaga.
Tujuan diadakan orientasi bagi peserta didik antara lain:
Agar peserta didik dapat mengerti dan mentaati segala peraturan yang berlaku di sekolah
Agar peserta didik dapat berpatisipasi aktif dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan sekolah
Agar peserta didik siap menghadapi lingkunganya yang baru baik secara fisik, mental dan emosional sehingga ia merasa betah dalam mengikuti proses pembelajaran disekolah serta dapat menyesuaikan dengan kehidupan sekolah.

Ada beberapa istilah yang digunakan untuk memberi nama kegiatan orientasi siswa baru ini. Ada menamakan kegiatan dengan MOS (Masa Orientasi Siswa), MOPD (Masa Orientasi Peserta Didik), POS (Pekan Orientasi Siswa) dan lain-lain. 
Ada dua jenis orientasi tujuan siswa menurut Ames (dalam Pintrich & Schunk, 1996), yaitu task-involved orientation atau orientasi penguasaan tugas dan ego-involved orientation atau orientasi performansi. Orientasi tujuan penguasaan berarti tujuan siswa dalam belajar dicirikan oleh kepuasan ketika menguasai atau menyelesaikan tugas, disertai dengan tingkat efikasi yang tinggi, nilai tugas, minat, emosi positif, ketekunan yang tinggi, mengotimalkan penggunaan strategi kognitif dan metakognitif, dan menjalankan strategi belajar yang baik (Arias, 2004). Orientasi tujuan performansi berarti siswa lebih banyak memperhatikan kemampuannya dan kurang mengembangkan performansi yang lain, dalam melaksanakan tugas, fokusnya adalah lebih baik dari orang lain (Permatasari dan Nur.2017:79).

G. Penempatan Peserta Didik (Pembagian Kelas)
sebelum pesrta didik yang telah diterima pada sebuah lembaga pendidikan (sekolah) mengikuti proses pembelajaran, terlebih dahulu perlu ditempatkan dan dikelompokkan dalam kelompok belajarnya. Pengelompokkan peserta didik yang dilaksanakan pada sekolah-sekolah sebagian besar didasarkan kepada system kelas.
Menurut William A Jeager dalam mengelompokkan peserta didik dapat didasarkan kepada:
Fungsi integrasi, yaitu pengelompokkan yang didasarkan atas kesamaan-kesamaan yang ada pada peserta didik. Pengelompokkan ini didasarkan menurut jenis kelamin, umur dan sebagainya. Pengelompokkan berdasarkan fungsi ini menghasilkan pembelajaran bersifat klasikal.
Fungsi perbedaan, yaitu pengelompokkan peserta didik didasarkan kepada perbedaan-perbedaan yang ada dalam individu peserta didik, seperti minat, bakat, kemampuan dan sbagainya. Pengelompokkan berdasarkan fungsi ini menghasilkan pembelajaran individual. 
Sedangkan menurut Hendyat Soetopo, dasar-dasar pengelompokkan peserta didik ada 5 macam, yaitu:
Friendship Grouping 
  Pengelompokkan peserta didik didasarkan pada kesukaan di dalam memilih teman antar peserta didik itu sendiri. Jadi dalam hal ini peserta didik mempunyai kebebasan didalam memilih teman untuk dijadikan sebagai anggota kelompoknya.
Achievement Grouping
Pengelompokkan peserta didik didasarkan pada prestasi yang dicapai oleh siswa. Dalam pengelompokkan ini biasanya diadakan percampuran antara peserta didik yang berprestasi tinggi dengan peserta didik yang berprestasi rendah.
Aptitude Grouping
Pengelompokkan peserta didik didasarkan atas kemampuan dan bakat  yang sesuai dengan     apa yang dimiliki peserta didik itu sendiri. 
Attention or Interest Grouping
Pengelompokkan peserta didik didasarkan atas perhatian atau minat yang didasari kesenangan peserta didik itu sendiri. Pengelompokkan ini didasari oleh adanya peserta didik yang mempunyai bakat dalam bidang tertentu namun si peserta didik tersebut tidak senang dengan bakat yang dimilikinya.
Inteligence Grouping 
Pengelompokkan peserta didik yang didasarkan atas hasil tes intelegenssi yang diberikan kepada peserta didik itu sendiri.

H. Pembinaan dan pengembangan peserta didik
Langkah berikutnya dalam manajemen peserta didik adalah melakukan pembinaan dan pengembangan terhadap peserta didik. Pembinaan dan pengembangan peserta didik dilakukan sehingga anak mendapatkan bermacam-macm pengalaman belajar untuk bekal kehidupannya di masa yang akan datang. Untuk mendapatkan pengetahuan atau pengalam belajar ini, peserta didik harus melaksanakan bermacam-macam kegiatan. Lembaga pendidikan (sekolah) dalam pembinaan dan pengembangan peserta didik biasanya melakukan kegiatan yang disebut dengan kegiatan kulikuler dan kegiatan ekstra kulikuler .
kegiatan kulikuler adalah semua kegiatan yang telah ditentukan di dalam kurikulum yang pelaksanannya dilakukan pada jam-jam pelajaran. Kegiatan kurikuler dalam benuk proses belajar mengajar di kelas dengan nama mata pelajaran atau bidang studi yang ada disekolah. Setiap peserta didik wajib mengikuti kegiatan kurikuler ini. Sedangkan kegiatan ekstra kulikuler merupakan kegiatan peserta didik yang dilaksanakan di luar ketentuan yang telah ada di dalam kuikulum. Kegiatan ekstra kulikuler ini biasanya terbentuk berdasarkan bakat dan minat yang dimiliki oleh peserta didik.  Setiap peserta didik tidak harus mengikuti semua kegiatan ekstra kulikuler. Contoh kegiatan ekstra kulikuler : OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah), ROHIS (Rohani Islam), kelompok karate, kelompok silat, kelompok basket, pramuka, kelompok teater, dan lain-lain. 
Dalam kegiatan pembinaan dan pengembangan inilah peserta didik diproses untuk menjadi manusia yang diharapkan sesuai dengan tujuan pendidikan. Bakat, minat dan kemampuan peserta didik harus ditumbuh kembangkan secara optimal melalui kegiatan kurikuler dan ekstra kurikuler. 
Keberhasilan pembinaan dan pengembangan peserta didik diukur melalui proses penilaian yang dilakukan oleh lembaga pendidikan (oleh guru). Ukuran yang sering digunakan adalah naik kelas dan tidak naik kelas bagi peserta didik yang belum mencapai tingkat akhir serta lulus dan tidak lulus bagi peserta didik ditingkat akhir sebuah lembaga pendidikan (sekolah). Penilaian yang dilakukan oleh guru tentu saja didasarkan prinsip-prinsip penilaian yang berlaku di lembaga pendidikan (sekolah) tersebut.
According Sood (2003:36), role of teacher in improving performance of the students is very important and can be studied from different prespectives. Does teachers expectation influence students performances is still a controversial issue but it’s relationship with students performance cannot be eliminated. To explain this relationship in classroom and other contexts a large number of experimental and correlation studies have been conducted and as a result of that many interrelated erms have been used by scholars. 
Terjemahan :
Menurut Sood (2003:36), peran guru dalam meningkatkan kinerja siswa sangat penting dan dapat dipelajari dari prespektif yang berbeda. Apakah harapan guru memengaruhi penampilan siswa masih merupakan masalah yang kontroversial tetapi hubungannya dengan kinerja siswa tidak dapat dihilangkan. Untuk menjelaskan hubungan ini di kelas dan konteks lain sejumlah besar studi eksperimental dan korelasi telah dilakukan dan sebagai akibat dari banyak istilah yang saling terkait telah digunakan oleh para sarjana.
According Andreea and  Ilie (2015:29), careers guidance is a process that aims to provide individuals a clearer understanding of themselves and their potential for future career development. Particularly careers guidance helps people to:
- Clarify their goals for the future;
- Assess their career development needs at different points in their life;
- To understand the actual process of choosing a career;
- Take appropriate measures to implement these objectives 
Terjemahan :
Menurut Michaela dan Ilie(2015:29), panduan karier adalah proses yang bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada individu
dari diri mereka sendiri dan potensi mereka untuk pengembangan karir masa depan. Khususnya bimbingan karier
membantu orang untuk:
- Perjelas tujuan mereka untuk masa depan
- Menilai kebutuhan pengembangan karir mereka di berbagai titik dalam kehidupan mereka
- Untuk memahami proses sebenarnya dalam memilih karier
- Ambil langkah yang tepat untuk menerapkan tujuan-tujuan ini.
Developmental level, which can be assessed by testing the child hidividually, and a potential developmental level, which can be assessed by examining learning that occurs when the child is problem solving under the guidance of an adult or is working in collaboration with more capable peers (Ward and Worsham.2012).
Terjemahan: 
Tingkat perkembangan, yang dapat dinilai dengan menguji anak secara perseorangan, dan tingkat perkembangan potensial, yang dapat dinilai dengan memeriksa pembelajaran yang terjadi ketika anak memecahkan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau bekerja dalam kolaborasi dengan rekan-rekan yang lebih cakap (Ward and Worsham.2012).
According (Abubakar,2001:14), guidance service is assistance given to student in school in order to increase the quality of the individual’s potentials. Adolescents in school require what Baker (2000) described as “transition enhancement assistance” aimed atpreparing them for further education, training or employment. Therefore, a school guidance programme is to providean array of services that cater for the developmental and career development needs of these young people. Assummarized by Rosemary (2002): “acquiring knowledge self knowledge, developing specific career and educationalgoal, adjusting to changing conditions, planning career and educational programme to achieve goals, developingproblem‐solving and decision making skills, coping with the outcome of decisions, and enhancing social, emotional andcognitive skills”.
Terjemahan : 
Menurut (Abubakar,2001:14), layanan bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada siswa di sekolah untuk meningkatkan kualitas potensi individu. Remaja di sekolah memerlukan apa yang Baker (2000) gambarkan sebagai "bantuan peningkatan transisi" yang ditujukan untuk mempersiapkan mereka untuk pendidikan, pelatihan atau pekerjaan lebih lanjut. Oleh karena itu, program bimbingan sekolah adalah untuk menyediakan berbagai layanan yang memenuhi kebutuhan pengembangan dan pengembangan karier para remaja ini. Assummarized oleh Rosemary (2002): "memperoleh pengetahuan diri pengetahuan, mengembangkan karir dan pendidikan tertentu, menyesuaikan dengan kondisi yang berubah, perencanaan karir dan program pendidikan untuk mencapai tujuan, mengembangkan keterampilan pemecahan masalah dan pengambilan keputusan, mengatasi hasil keputusan, dan meningkatkan keterampilan sosial, emosional dan kognitif ”.

I. Pencatatan dan Pelaporan
Pencatatan dan pelaporan tentang peserta didik di sebuah lembaga pendidikan (sekolah) sangat diperlukan. Kegiatan pencatatn dan pelaporan dimulai sejak peserta didik itu diterima di sekolah tersebut sampai mereka tamat atau meniggalkan sekolah tersebut. Pencatatan tentang kondisi peserta didik perlu dilakukan agar pihak lembaga dapat memberikan bimbingan yang optimal pada peserta didik. Sedangkan pelaporan dilakukan sebagai wujud tanggung jawab lembaga agar phak-pihak dapat mengetahui perkembangan peserta didik dilembaga tersebut. Untuk melakukan pencatatan dan pelaporan diperlukan peralatan dan perlengkapan yang dapat mempermudah. Peralatan dan perlengkapan tersebut biasanya berupa :
Buku induk siswa 
Buku ini disebut juga buku pokok atau stambuk. Buku ini berisi catatan tentang peserta didik yang masuk pada sekolah tersebut. Setiap pencatatan peserta didik disertai dengan nomor pokok/ stambuk, dan dilengkapi pula dengan data-data lain setiap peserta didik.
Buku klapper 
Pencatatan buku ini dapat diambil dari buku induk., tetapi penulisannya disusun berdasarkan abjad. Hal ini untuk memudahkan pencarian data peserta didik kembali jika sewaktu-waktu diperlukan 
Daftar Presensi
Daftar hadir peserta didik sangat penting sebab frekuensi kehadiran setiap peserta didik dapat diketahui/dikontrol. Untuk memeriksa kehadiran peserta didik pada keseluruhan kegiatan disekolah, setiap hari biasanya daftar kehadiran itu dipegang oleh petugas khusus. Sedangkan untuk memeriksa kehadiran peserta didik dikelas pada jam-ham pelajaran, daftar hadir di pegang oleh guru.
Daftar mutasi peserta didik
Untuk mengetahui keadaan jumlah peserta didik dengan persis, sekolah harus mempunyai buku/dafatr mutasi peserta didik. Daftar mutasi itu digunakan untuk mencatat ke luar masuk peserta didik dalam setiap bulan, semester atau setahun. Hal ini karena keadaan jumlah peserta didik tidak tetap, ada peserta didik pindahan da nada pula peserta didik yang keluar.
Buku catatan pribadi peserta didik
Buku  catatan peserta didik ini lebih lengkap lagi tentang data setiap peserta didik. Buku ini di antara lain berisi :identitas peserta didik, keterangan mengenai keadaan keluarga, keadaan jasmani dan kesehatan, riwayat pendidikan serta hasil belajar, data psikologis (sikap,minat, dan ciata-cita) dan juga kegiatan diluar sekolah. Buku ini biasanya disimpan di ruang BP dan dikerjakan pula oleh petugas BP. 
Daftar nilai
Daftar nilai ini dimiliki oleh setiap guru bidang studi, khusu untuk mencatat  hasil tes setiap peserta didik pada bidang studi/mata pelajaran tertentu. Dalam daftar nilai ini dapat diketahui kemajuan belajar peserta didik, karena setiap nilai hasil tes dicatat di dalamnya. Nilai-nilai tersebut sebagai bahan olahan nilai raport.
Buku Legger
Legger merupakan kumpulan nilai dari seluruh bidang studi untuk setiap peserta didik. Pengisisn/pencatatan nilai-nilai dalam legger ini dikerjakan oleh wali kelas sebagai bahan pengisian raport. Pencatatan nilai-nilai dalam legger biasanya satu tahun dua kali (sesuai dengan pembagian raport).
Buku raport
Buku raport merupakan alat untuk melaporkan prestasi belajar peserta didik kepada orang tua/ wali atau kepada peserta didik itu sendiri. Selain prestasi belajar, dilaporkan pula tentang kehadiran, tingkah laku peserta didik dan sebagainya. Buku ini diberikan tiga kali dalam satu tahun untuk tingkat SD dan dua kali untuk tingkat SLTP/SLTA.

J. Kelulusan dan Alumni 
Proses kelulusan adalah kegiatan paling akhir dari manajemen peserta didik. Kelulusan adalah pernyataan dari lembaga  pendidikan (sekolah) tentang telah diselesaikannya program pendidikan pendidikan yang harus diikuti oleh peserta didik. Setelah peserta didik selesai mengikuti seluruh program program pendidikan di suatu lembaga pendidikan dan berhasil lulus dan ujian akhir, maka kepada peserta tersebut diberikan surat keterangan lulus atau sertifikat. Umumnya surat keterangan sering disebut ijazah atau Surat Tanda Tamat Belajar (STTB).
Ketika peserta didik sudah lulus, maka secara formal hubungan antara peserta didik dan lembaga telah selesai. Namun demikian, diharapkan hubungan antara para alumni dan sekolah tetap terjalin.  Hubungan antara sekolah dengan para alumni dapat dipelihara lewat pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan oleh para alumni, yang biasa disebut “reuni”. Bahkan saat ini setiap lembaga pendidikan (sekolah) ada organisasi alumninya, misalnya IKA (Ikatan Alumni ). Prestasi yang dicapai para alumni dari lembaga pendidikan (sekolah) ini perlu didata atau dicatat oleh lembaga, sebab catatan tersebut sangat berguna bagi lembaga dalam mempromosikan lembaga pendidikannya.
Berdasarkan penjelasan diatas pemerintah mengakomodasi kebutuhan dan kemampuan peserta didik berdasarkan bakat, minat, dan potensinya sehingga tidak merugikan peserta didik. Jika peserta didik mengikuti pembelajaran sesuai standar nasional pendidikan wajib mengikuti ujian nasional dan mendapatkan ijazah yang blangkonya dikeluarkan pemerintah, tapi jika peserta didik mengikuti pembelajaran pada satuan pendidikan dan mengikuti ujian di bawah standar nasional pendidikan maka akan mendapatkan ijazah yang blangkonya dikeluarkan oleh satuan pendidikan yang bersangkutan, walau demikian peserta didik masih bisa melenjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi pada satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan inklusif (Dian.2017:207).
2.2 Kajian Kritis
2.2.1 Pengertian Pengelolaan Pesserta Didik
Manajemen peserta didik atau kesiswaan merupakan salah satu bidang operasional MBS. Manajemen peserta didik adalah pengaturan terhadap kegiatan yang berkaitan dengan peserta didik. Mulai dari seorang peserta didik mendaftarkan diri di sebuah sekolah sampai dengan kelulusan peserta didik meninggalkan sekolah yang bersangkutan. Manajemen  peserta didik dapat juga diartikan sebagai usaha pengaturan terhadap peserta didik juga dapat diartikan sebagai usaha pengaturan terhadap peserta didik mulai dari peserta didik tersebut masuk sekolah sampai dengan mereka lulus sekolah.
2.2.2 Fungsi dan Tujuan Pengelolaan Peserta Didik
Tujuan manajemen peserta didik adalah mengatur kegiatan-kegiatan peserta didik agar kegiatan tersebut menunjang proses pembelajaran sehingga dapat berjalan lancar, tertib dan teratur serta dapat memberikan kontribusi bagi pencapain tujuan yang ditetapkan. Fungsi manajemen peserta didik adalah sebagai wahana bagi peserta didik untuk mengembangkan diri seoptimal mungkin, baik dari segi individualitas, sosial, aspirasi, kebutuhan atau potensinya.
Secara  khusus, manajemen peserta didik berfungsi sebagai berikut :
a. Fungsi yang berkenaan dengan perkembangan individualitas peserta didik, yaitu agar peserta didik dapat mengembangkan potensi-potensi individualitasnya.
b. Fungsi yang berkenaan dengan perkembangan fungsi sosial peserta didik, ialah peserta didik dapat mengadakan sosialisasi dengan teman sebayanya, dengan orang tua, keluarga, dengan lingkungan social sekolahnya dan lingkungan social masyarakat.
c. Fungsi yang berkenaan dengan penyaluran aspirasi dan harapan peserta didik, ialah agar peserta didik tersalur hobinya, kesenangan dan minatnya.
d. Fungsi yang berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan dan kesejahteraan peserta didik.
2.2.3 Langkah-Langkah Pengelolaan Peserta Didik
Perencanaan peserta didik menyangkut perencanaan penerimaan siswa baru, kelulusan, jumlah putus sekolah, dan kepindahan. Perencanaan peserta didik akan langsung berhubungan dengan kegiatan penerimaan dan proses pencatatan atau dokumentasi data pribadi siswa, yang kemu¬dian tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan pencatatan atau doku¬mentasi data hasil belajar dan aspek-aspek lain yang diperlukan dalam kegiatan kurikuler dan kokurikuler.
Perencanaan terhadap peserta didik meliputi kegiatan:
a) Sistem Penerimaan Peserta Didik Baru 
b) Kriteria Penerimaan Peserta Didik Baru
c) Analisis kebutuhan peserta didik
d) Rekruitmen peserta didik 
e) Seleksi peserta didik
f) Orientasi
g) Penempatan Peserta Didik (Pembagian Kelas)
h) Pembinaan dan pengembangan peserta didik
i) Pencatatan dan Pelaporan
j) Kelulusan dan Alumni 






BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan 
1. Manajemen peserta didik dapat diartikan sebagai usaha pengaturan terhadap peserta didik. Mulai dari peserta didik tersebut masuk sekolah sampai dengan mereka lulus. Yang diatur secara langsung adalah segi-segi yang berkenaan dengan peserta didik secara tidak langsung. Pengaturan terhadap segi-segi lain selain peserta didik dimaksudkan untuk memberikan layanan yang sebaik mungkin kepada peserta didik.
2. Tujuan manajemen peserta didik adalah mengatur kegiatan-kegiatan peserta didik agar kegiatan-kegiatan peserta didik agar kegiatan tersebut menunjang proses pembelajaran di lembaga pendidikan (sekolah); lebih lanjut, proses pembelajaran dilembaga tersebut (sekolah) dapat berjalan lancar, tertib dan teratur sehingga dapat meberikan kontribusi bagi pencapaian tujuan sekolah dan tujuan pendidikan secara keseluruhan. 
3. Fungsi manajemen peseta didik adalah sebagai wahana bagi peserta didik untuk mengembangkan diri se-optimal mungkin, baik yang berkenaan dengan segi-segi individualitasnya, segi sosial, aspirasi kebutuhan dan segi-segi potensi peserta didik lainnya. Agar tujuan dari fungsi manajemen peserta didik dapat tercapai, ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaannya. 
4. Langkah-langkah pengelolaan peserta didik antara lain:
a. Sistem Penerimaan Peserta Didik Baru
b. Kriteria Penerimaan Peserta Didik Baru
c. Analisis kebutuhan peserta didik
d. Rekruitmen peserta didik
e. Seleksi peserta didik
f. Orientasi
g. Penempatan Peserta Didik (Pembagian Kelas)
h. Pembinaan dan pengembangan peserta didik
i. Pencatatan dan pelaporan
j. Kelulusan dan alumni

3.2 SARAN
Dalam penyusunan makalah ini, penyusun sudah berusaha memaparkan dan menjelaskan materi dengan semaksimal mungkin, tapi tidak menutup kemungkinan adanya kekeliruan dalam penyusunannya, baik dari segi materi, maupun penyusunannya, oleh karena itu penyusun mengharapakan pembaca untuk penyempurnaan makalah selanjutnya, dan harapan bagi penyusun, semoga makalah ini dapat memberi manfaat dalam proses pembelajaran Pengelolaan Pendidika





















DAFTAR PUSTAKA

Abas, R Jati. 2012. Menuju Sekolah Mandiri. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Abubakar, Isa Ado. 2001. Career Guidance, Participation of Students and its Implication for Kano, Nigeria. The Malaysian Online Journal of Educational Science. Volume 1, Issue 3.
Ahmar, Ansari Saleh. 2016. Steps in Designing Queue and Interview Process using Information System:  A Case of Re-registration of New Students in Universitas Negeri Makassar. The Asian Journal of Technology Management. Vol. 9 No. 1.
Ariska, Ria Sita. 2015. Manajemen Kesiswaan. Jurnal Manajer Pendidikan. Vol.9. No.6. 
Dian, Ana Kameloh. 2017. Manajemen Layanan Peserta Didik Inklusif di Kota Palangka Raya. Jurnal Studi Agama dan Masyarakat. ISSN: 1829-8257. Vol.13 No.2.
Dickinson,Chris.2001.Classroom Management. Philip Waterhouse:Network Educational
Griffin, Ricky W.  2007. Student Achievement Series Principle Management. New York: Texas A & University.
Hermino,Agustinus.2013. Asesmen Kebutuhan Organisasi Persekolahan.Jakarta: IKAPI
Imron, Ali. 2011. Manajemen Peserta Didik Berbasis Sekolah. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Indrawan, Irjus. 2015. Manajemen Sarana dan Prasarana Sekolah. Yogyakarta: Deepubish.
Junaidi. 2015. Pelaksanaan Manajemen Peserta Didik Pada MAN Beringin Kota Sawahlunto. Jurnal Al-Fiqrah.Vol.3 No.1.
Karagiannis. 1991. Database and Expert Systems Application. New York : Spinger-Verlag Wien GmbH.
Kristiawan, Muhammad. dkk. 2017. Manajemen Pendidikan. Yogyakarta : Deepublish.
Michaela, Nita.A dan Goga.I.C. 2015. A Research On The Educational Counseling And Career Guidance In Romania. ISSN 1857-7881. Vol.2.
Permatasari, B.L.A dan Nur A.F. 2017. Pengaruh Orientasi Tujuan Dan Persepsi Siswa Pada Kompetensi Guru Terhadap Prokrastinasi Akademik Siswa. Jurnal Psikologi dan Kesehatan Mental. e-ISSN 2528-5181. Vol. 2(1). 
Putra, Adi. 2016. Layanan Khusus Peserta Didik (Kesiswaan). Jurnal of Islamic Education Management. ISSN: 2461-0674. Vol. 2 No. 2.
Rahmi, Nurul. 2014. Persepsi Guru Tentang Manajemen Peserta Didik Sekolah Dasar Negeri Gugus II Kecamatan Lubuk Sikarah Kota Solok. Jurusan Administrasi Pendidikan FIP UNP.  Vol.2. No.1.
Saifuddin. 2018. Pengelolaan Pembelajaran Teoritis dan Praktis. Yogyakarta : Deepublish.
Schraeder,Mike, dkk. 2014. The Functions of Management as Mechanisms for 
Fostering Interpersonal Trust.  Journal sfu.ca/abr. vol 5. Pages 50-62.
Sood, Neelam. 2003. Management Of School Education In India. New Delhi : APH Publishing Corporation.
Sunaengsih, Cucun. dkk. 2017. Pengelolaan Pendidikan. Sumedang: UPI Sumedang Press.
Tim Dosen, Administrasi Pendidikan. 2014. Manajemen Pendidikan. Bandung : Alfabeta.
Ward, Mary Ann and Dode W. 2012. Student Guidance and Development. New York London : Routledge. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar